DIBALIK HEGEMONI PADA KPOP [HEAVY TRUTH]

Infinite Tsukuyomi  by Dev
Infinite Tsukuyomi by DeviantArt

Korean pop atau yang lebih dikenal dengan K-pop adalah jenis musik populer asal Korea. Biasanya musik-musik yang terkategorikan dalam genre K-pop terinspirasi dari jenis gaya musik lainnya seperti musik pop Barat, rock, jazz, R&B, electronic, dan hip-hop.

Mirip seperti genjutsu Infinite Tsukuyomi milik Pain yang mampu menyihir jutaan remaja sekaligus. Akan tetapi diberbagai artikel media hanya menjelaskan permukaan gunung es bagaimana boomingnya Kpop. Diartikel ini akan saya kupas dalam berbagai perspektif. Diharapkan setelah membaca artikel ini, kita bisa memahami apa yang selebriti/idol/artis posting di sosial media itu bukan asal saja. Disamping itu, kita akan mencoba melihat hal dengan gambaran yang lebih besar. Alias bahasa kerennya “Big Picture” secara political-economy.

Artikel ini menggunakan berbagai penelitian sebagai referensi. Diolah dengan argumen dan kosakata yang lebih luwes karena saya sendiri tidak suka ke-kakuan. Saya membagi dimensi / lingkup argumennya dalam bab. Sehingga berusaha tidak melebar kemana-mana meskipun masih agak tumpang tindih.

Daftar BAB :

  1. Parasocial Relationship 4.0 dan Apa Yang Ada Dibaliknya
  2. HIBRIDITAS PERSONA KPOP / JPOP IDOL
  3. MASYARAKAT KONSUMEN
  4. HYPER-REALITAS, SIMULASI, DAN KETERIKATAN EMOSIONAL
  5. HEGEMONI
  6. EFEK HYPER-REALITAS & IDOL DALAM SANGKAR BURUNG KONSERVATIF-KAPITALIS
  7. BIGGER PICTURE IN POLITICAL ECONOMIC DIMENSIONS
  8. HOW TO REMOVE THIS SPELLS

.

1. “Parasocial Relationship 4.0 dan Apa Yang Ada Dibaliknya”

Dalam penelitian, ada teori yang disebut “Interaksi Parasosial” atau Parasocial Relationships. Interaksi parasosial (disingkat PI) adalah teori yang dicetuskan oleh Horton dan Wohl pada tahun 1956 dan menjadi teori yang terus dikembangkan oleh khalayak terutama mahasiswa bidang komunikasi. Pada awalnya PI didefinisikan sebagai interaksi tatap muka secara langsung yang dapat terjadi antara karakter media dan audiensnya. Perilaku persona dalam setiap acara/interaksi (misalnya program televisi, konten youtube, konten instagram, iklan, podcast, wawancara talkshow, dll) membantu pemirsa untuk menyampaikan opini dan emosinya tentang persona artis dan storytelling-nya dilayar kaca. Yang kemudian diikuti oleh pemirsa/audience ke tingkat parasosial berikutnya.

“Hubungan parasosial mulai berkembang ketika audiens menganggap bahwa karakter yang digambarkan oleh media ”….met as if they were in the circle of one’s peers“, (Horton dan Wohl, 1956) atau seolah-olah berada di lingkaran teman sebayanya. Selebriti mampu menawarkan hubungan yang berkelanjutan dengan fans, karena konten mereka dapat merasuk dan sangat mirip dengan rutinitas kehidupan sehari-hari. Dihembuskan ulang tanpa kenal waktu oleh para fans, pedagang berkedok fans, hingga media juga ikut berpartisipasi, tentu dengan kepentingan mereka masing-masing.

Dengan banyaknya interaksi, akan menciptakan opini-opini dan keterikatan emosi (emotional attachment) yang selanjutnya akan memengaruhi perasaan audiens tentang perilaku persona artis/idol, lalu akan memengaruhi hubungan parasosial dengan orang tersebut (Alperstein, 1991). Perasaan kuat tentang tokoh/artis/idol akan terjadi dan akan terus menguat setelah fans terpapar dengan sejumlah interaksi (acara / konten / talkshow,dll).

Apa hubungannya dengan Kpop?

Contoh : coba kalian ketik quora.com. Lalu kalian cari dengan keyword “BTS” atau idol siapapun. Kalian akan mendapati berbagai pertanyaan dan opini pribadi tentang konten BTS atau kepribadian IDOL KPOP yang luar biasa banyak. That is your first trap!

Era baru media sosial memberi khalayak ilusi hubungan tatap muka dengan persona tersebut. Penelitian Horton dan Wohl menciptakan istilah “program personality”, yang pada dasarnya merupakan kampanye pemasaran yang digerakkan oleh selebritis/influencer/buzzer saat ini. Selama kampanye (atau program) ini, Persona dituntut untuk menciptakan ilusi keintiman dengan audiens mereka. Hingga terciptalah Parasosial Interaction.

Horton, Donald & R. Richard Wohl – Mass Communication and Para-Social Interaction: Observations on Intimacy at a Distance

Interaksi parasosial ini meski termediasi dengan TV atau Sosial media, banyak peneliti yang menganggapnya sebagai salah satu hubungan sosial juga. Tapi hanya satu arah dan dengan objek yang tidak pernah nyata, dimana hubungan tersebut hanya terjadi didalam benak atau imajinasi penonton/audience.

https://edition.cnn.com/2018/12/28/health/rise-of-digisexuals-intl/index.html

Saya sendiri dulu pas kuliah beberapa kali bayangin jalan-jalan sama Chelsea Islan gara-gara Tetangga Masa’ Gitu. Tapi ndak pernah lebih dari 2 menit. Cewek di Real Life lebih nyata dan lebih cantik. Wkwkwk.

Parasosial itu sebenarnya taktik untuk bisnis. Dikembangkan lebih jauh dalam Teori Social Penetration (Penetrasi Sosial) yang pertama kali muncul pada tahun 1973 melalui tulisan Irwin Altman dan Dalmas Taylor yang dimuat dalam buku berjudul “Social Penetration: The Development of Interpersonal Relationships“. Mereka menjelaskan tentang hubungan meskipun satu arah akan berakhir sebagai sahabat (intim) jika mereka melakukan serangkaian proses secara sistematis atau teratur dalam suatu tahapan atau bentuk, dimana proses pertama ini harus melalui tingkat permukaan sebagai awal kemudian terus naik hingga tingkatan yang lebih intim.

Sekarang kalian paham kenapa konten Kpop luar biasa berjibun di Youtube. Mungkin dibuat oleh fans, atau oleh Kpop Company sendiri. Yang dari Company justru yang berbahaya karena memang itu semua ada alasannya. Parasosial sebagai fundamental, bukan musikalitas. Secara teori terlihat susah. Padahal secara praktek lebih mudah.

Dan sebagai “bisnis”, perusahaan entertainment K-pop dan J-Pop itu punya tujuan yang sama. Memanfaatkan ‘psikologis’ audience nya, yaitu “celah kerentanan” pada manusia. Interaksi dan hubungan parasosial di media sosial sangat erat kaitannya dengan hiperrealitas. Ketika “persona” dari figur/selebriti melalui media jauh lebih besar dan nyata ketimbang kenyataan tentang idol itu sendiri.

Kita kan tidak tahu seperti apa idol di Real Life. Kita tahu mereka dari interview, drama, konten, media, dan terutama influencer. Kpop is about to selling personas. Idol Kpop dipasarkan sebagai komoditas non-materi sehingga emosi dan keintiman antar idol-fans adalah mata uang utama mereka. [Jhon Lie]

Semua hal yang berkaitan dengan kebanyakan idol Kpop mungkin saja adalah hasil dari rekayasa, sehingga para penggemar akhirnya akan membentuk sebuah gambaran/image/citra mengenai artis tersebut berdasarkan hiperrealitas atau realitas yang berbeda dengan realitas yang sebenarnya. Kalian sendiri tetap bisa menebaknya dari konsisten atau tidaknya narasi mereka selama ini.

Parasocial Relationships | INTP Forum

Psikologi hubungan imajiner adalah topik yang sejak dulu sudah dieksplorasi oleh bidang komunikasi dan pemasaran. Jika kita dulu memakai media TV, sekarang media berkembang ke sosial media. Para penonton dan kondisi psikologisnya dianggap terlibat secara aktif dalam hubungannya dengan bintang TV/Sosmed. Si penonton sendiri yang mengaktifkannya. Hubungan dengan lingkungan sekitar di Real Life si penonton juga memainkan peranan interaksi parasosial dengan idol/artis TV ini. Bisa dibilang Parasocial Relationship punya arti lebih luas dibanding Celebrity Worship.

Pemujaan terhadap selebritis (Celebrity Worship), sebagai idola atau sosok panutan, merupakan bagian normal dari perkembangan identitas di masa kanak-kanak dan remaja. Tapi interaksi parasosial ini bisa menjadi fenomena abnormal dimana individu menjadi terobsesi dengan satu atau lebih selebriti. McCutcheon, Lange, dan Houran memberikan “The Absorption Addiction Model” untuk menjelaskan kasus-kasus pemujaan selebriti.

Penelitian : Hubungan Parasosial di Media Sosial pada ARMY

Menurut model ini, struktur identitas yang dikompromikan pada beberapa individu memfasilitasi penyerapan psikologis dengan seorang selebriti dalam upaya membangun identitas dan rasa kepuasan.

Paige Roden's Blog | A2 Psychology – Eating Behaviours, Aggression,  Biological Rhythms, Research Methods, Media Psychology & Schizophrenia |  Page 2
“The Absorption Addiction Model”

Ukuran ini yang sering dipakai dalam penelitian parasosial. Begini perilakunya jika dipakai dalam menjelaskan femonema Kpopers dikehidupan nyata secara singkat.

Entertainment Social : fans hanya sekedar tertarik kualitas musik, talenta, visual, kualitas akting, dance, fashion diatas panggung, kegesrekan idola mereka, dan hal-hal yang tampak dipermukaan. Disini fans hanya menyukai artis/idol sebagai penghibur.

Intense-Personal : setelah fase ES mulai akut, penggemar mulai terikat secara emosional. Mulai dari menyukai persona idolanya, mencari tahu segala hal yang personal, mengikuti jadwal, konten serta tindak tanduk idola dan menciptakan narasi bagaimana idolanya menginspirasi didalam kehidupan penggemar. Jika idolanya sakit, cedera, dll penggemar dilevel ini akan mencari tahu segala informasinya. Beli “beberapa” merch, album, dll dari idola sebagai bentuk dukungan, dan merasa sedih ketika idolanya sedih dan bahagia ketika idolanya tertawa. Umumnya penggemar akan mulai mengalami maladaptive daydreaming, mulai menulis Fan fiction, fantasi yang menuju obsesi. “Oppa is OURS!”. Dilevel ini juga termasuk penggemar yang ingin pasangannya kelak mirip-mirip seperti idolanya secara visual dan perilaku. Jiwa Anti-shipper dan Shipper nya sedang-sedang saja. Fans ini kalau ditampol masih nyadar dengan realitas kok. Obsesinya masih level Beginner – Medium. Dll

Borderline-pathological : Ketika Level Intense-Personal sudah mulai akut, berarti penggemar ini berada di Borderline Pathological. Yaitu perilaku yang melampaui akal sehat (irrasional). Penggemar dilevel ini mulai menganggap idola adalah “best place to escape“. Dalam Kpop biasa disebut Sasaeng, bentuk lainnya sebenarnya banyak. Tentunya sudah banyak dari kalian yang tahu kisah mereka. Jika diluar korea, dia bisa nulis Fan Fiction 10.000 karakter tentang idolanya dalam beberapa jam. Maladaptive daydreamernya udah level profesional. Bukan lagi penganut “OPPA IS OURS!”, tetapi penganut “Oppa is MINE !” atau “Oppa selalu benar” akut. Jika fans itu alergi susu, tapi ketika melihat Jungkook/idol biasnya minum susu, dia jadi ikutan minum susu demi jungkook. Tidak peduli alergi akan menyerangnya. Dia bisa streaming 24jam sampe sinting. Nilai pelajaran turun karena dia ketika pelajaran dikelas malah streaming konten idolanya. Jiwa Shipper & Anti-Shippernya level akut. Ngeliat biasnya dipasangin sama girlgrup auto ngamuk. Dll

Juga termasuk perilaku Emily ini. Gak kayak Emily = gak oke.

BTS-Masturbasi-2
Emily #SpeakYourSelf

Sebenarnya perilaku melampaui akal sehat terhadap idol ini jauh lebih parah pada fans TVXQ dan EXO. Apa yang dilakukan fans Luhan (tercatat 4 orang fangirl EXO-L China bunuh diri setelah pengumuman Luhan punya kekasih) adalah beyond anything we ever imagined. Saking suksesnya Kpop Agensi dan media membuat fans yang bunuh diri itu merasa dia lahir bukan dari orang tuanya, tapi dari batu terbelah. Dan plot yang sama juga dipakai berulangkali oleh beberapa Kpop Company hingga sekarang.

Pembawa acara, pemain film, adalah level pertama dari jenis persona yang dapat dengan mudah mengembangkan Parasocial Interactions (PI). Karena mereka lebih banyak tampil sebagai diri mereka sendiri daripada dalam sebuah peran drama, sering menyapa penonton/penggemar secara langsung, dan muncul berulang kali dan secara teratur dalam situasi dan lingkungan yang sama, audiens kemungkinan besar menciptakan hubungan dengan persona tersebut. Jika dipraktekkan di Kpop seluruh konten, interview kpop, dan semacamnya diciptakan untuk merasa nyaman dan akrab dengan persona, dan eksposur yang teratur dan berulang-ulang oleh fans organik dan buzzeRp akan menciptakan ilusi keintiman idol-fans.

Menurut artikel TheVerge, BTS World juga disebut meningkatkan Parasocial Relationship antara BTS dan fandomnya. Game-game jaman now sebenarnya memperkaya keriuhan perayaan Multi-Identitas dengan fitur chat, invite, dan lebih socialable alias friendly buat mabar. Pertanyaannya, jika game umumnya lebih berlandaskan pada kepuasan, mabar, multi-indentitas, pendidikan, dll, lalu apa pointnya antara menghubungkan game dengan parasosial relationship??

Media and Social Life 2014

https://www.theverge.com/2019/7/25/8929035/bts-world-game-iphone-android-kpop-parasocial-relationships

Berbagai penelitian berusaha mengungkap “bagaimana” dan “apa” yang membawa audience (fans / penonton) kearah Parasosial ini. Saya pernah baca penelitian bahwa Fans/penonton merasa mereka lebih mengenal persona Artis/Idol tersebut dan memiliki sedikit keamanan/rasa nyaman tentang perilaku idolanya (yaa karena fans merasa lebih tahu dan perilaku persona bisa diprediksi, tidak seperti gebetannya di RL).

Ada juga yang berpendapat karena adanya self esteem yang rendah di Real Life fans tersebut dan melihat selebriti idola nya sebagai seseorang yang sempurna, kemudian akan mengembangkan pikiran yang irasional bahwa selebriti idolanya dapat menjadi seseorang yang pas untuk melengkapi dirinya. Ada juga yang berpendapat konten-konten idol mampu memenuhi salah satu sisi emosi penggemar yang tidak pernah ada di Real Life, misal ketakutan. takut terisolasi dan dikucilkan, takut kesepian, rasa puas, dll. Selain itu juga ada penelitian yang menyebutkan sedikitnya kaitan antara gangguan kecemasan (anxiety) dan celebrity worship.

PERILAKU CELEBRITY WORSHIP PADA ANGGOTA FANDOM EXO DALAM KOMUNITAS EXO-L BANDUNG

PENELITIAN : PENGARUH LONELINESS TERHADAP PARASOCIAL RELATIONSHIP PADA FANSCLUB WANNABLE DI BANDUNG

Penelitian : Hubungan Self Esteem dengan Pathological Borderline Celebrity Worship

Untuk semua jenis influencer/buzzer : bayaran, gratisan, dll

Semua berawal dari gabut. Konten selebriti/idol itu bagaikan script yang mampu meretas ‘bug’ pada manusia. Jika kita tidak mampu mem-filter atau memberi batas nalar wajar, Kpop bisa : mengakses sisi imajinasi dan membuat kita mengembangkan “hubungan” dengan karakter dan persona, mengikat emosi kita, memodifikasi minat serta selera, membuka jalan bias kognitif, hingga menggunakan emosi demi konsumsi pernak-pernik Kpop.

.

2. HIBRIDITAS PERSONA KPOP / JPOP IDOL

Buat kalian yang masih bertanya-tanya, apa itu “persona”, adalah tergantung pada konteksnya, dapat merujuk pada citra publik dari kepribadian seseorang, atau peran sosial yang diadopsi, atau karakter fiksi. Persona, Personae, Personas ini berasal dari bahasa Latin, yang aslinya mengacu pada topeng teater. Di web sosial, penggunanya mengembangkan persona virtual sebagai identitas online (alter ego). Oleh penyanyi, bisa berarti topeng atau peran mereka selama dipanggung atau ketika menyanyikan lagu dengan emosi tertentu. Dalam hal IT, User Persona digunakan dalam perancangan UI yang secara praktis untuk menghasilkan produk high-tech sesuai target market terbaru. Dalam hal pemasaran / marketing, “buyer persona” digunakan untuk lebih mengarahkan kemana target market pemasar dalam menjual produk.

Menurut Bhabha (1994), hibrid merupakan metafora bergabungnya dua bentuk berbeda yang memunculkan sifat khas. Sekaligus, penggabungan tersebut meniadakan sifat unik yang dimiliki keduanya.

“Persona” itu kaitannya dengan target audience. Artis harus tampil cute untuk audience yang menyukai hal-hal cute, atau tampil sexy untuk mereka yg menyukai hal-hal sexy. Begitu juga manly, gay, dll untuk audience yang menjadi target market yang serupa. Dalam Kpop, hal ini dikenal dengan istilah fan service. Dengan begitu mereka dapat menciptakan rasa keintim-an dengan jutaan orang asing pada saat yang bersamaan.

Semakin banyak partisipasi budaya yang dilibatkan berbagai konten yang dibuat oleh fandom dan dari nilai lainnya, semakin banyak industri memperoleh keuntungan dari tenaga kerja gratis ini.

Content Kpop memang memberi ruang yang cukup luas agar fans bisa berkreasi lebih banyak dan akhirnya content tersebut diproduksi ulang oleh fans sehingga mampu menjangkau audience lebih luas termasuk penggemar yang memiliki minat terhadap hal yang berbeda dari yang lain. BoyxBoy, dll.

Kamu lebih pilih ini?

5 Of The Top Most Shipped Idols This Year - Koreaboo
Untuk Fujhosi

Atau ini?

BTS V left a comment during GFRIEND'S vlive? | Members are teasing SOWON?!!  (JUST MY DELULUNESS) - YouTube
Shipper

Misalnya idol memiliki identitas ganda seperti mereka seolah straight, tapi sekaligus gay. Cute & polos sekaligus manly/sexy badass. Ini semua persona yang memang dibentuk secara sengaja dalam Kpop. Persona yang bisa ditemui dalam Kpop diantaranya adalah :

  • Ban dating, agar idol bisa menjadi perhatian fans jomblo
  • Yaoi (boyxboy, boys love, misal Vkook, TaeKook, dll), untuk konsumsi fans Fujoshi.
  • Shipper (ke IDOL lain dan lawan jenis, misal SinKook, dll), untuk konsumsi fans yg suka menjodoh2kan. Shipper ini rata-rata hanya buatan sesama fans.
  • Sexy, untuk konsumsi fans yang suka hal berbau sexy daripada yg lain
  • Cute, untuk konsumsi fans yang suka hal berbau cute daripada yg lain
  • Manly, untuk konsumsi fans perempuan yang menyukai hal-hal yang jantan
  • Man with feminin
  • dll. Nanti ditambah kalo inget.

Jika kepribadian tertentu artis/idol diproduksi dan / atau secara sistematis dipromosikan dengan hibridisasi dan secara massal seperti ini, seseorang harus bertanya bagaimana dan mengapa hal itu muncul dan menjadi populer, bahkan menjadi kultur yang-paling-nggak-nyambung yang mendampingi musikalitas penyanyi. Representasi seperti itu mungkin menambah konstruksi penyanyi sebagai objek non-musik, dan juga menambahkan lapisan kompleksitas karakter publik mereka.

Kultur ini awal saya riset, ada pada SMAP, idol boygroup pertama Jepang. SMAP ini grup musik yang mana tidak memiliki keahlian musik, tapi polesan berbagai media, serta bermain dalam gender dan maskulinitas. Bahkan, SMAP ini terang-terangan berbicara bahwa keahlian mereka bukanlah menyanyi, atau menari, atau akting. Tapi first-class amateur. [Kasus SMAP].

Bahkan menurut Bhabha bahwa hibriditas telah dikooptasi oleh kapitalisme transnasional, yang mengubah apa yang dia bayangkan sebagai politik budaya subversif menjadi hegemoni budaya yang dominan.

Maka dengan menggabungkan studi politik-ekonomi, theory of sign, kekuatan consumerism dari simulacra Baudrillard, serta neoliberal, yang mana kesemuanya ini mengambil alih kontrol industri Kpop, saya membuat suatu hipotesa yaitu hibriditas K-pop berfungsi untuk memproduksi ulang dan melanggengkan status quo melalui tumpah ruahnya visual oportunistik.

Industri Kpop adalah bagaimana citra diciptakan oleh keinginan atau fantasi tertentu dan menghasilkan berbagai peristiwa sosial-budaya berdasarkan simulasi, bagaimana industri mempromosikan jenis gender tertentu dan hibriditasnya. Pada gilirannya, mereka sekaligus menjadi objek dan subjek simulasi for their split personality.

Dalam ekonomi kapitalis akhir, image/citra dan ‘apa-yang-tampak-di-media‘ adalah alat kalibrasi ulang yang menggoda masyarakat agar mengadopsi kebutuhan, fantasi, dan perilaku yang sebenarnya dibuat-buat. Untuk alasan ini, dalam budaya populer Korea kontemporer, “idol K-pop sebagai objek fantasy adalah konstruksi ideal, sekaligus sebuah ‘cermin’ refleksi yang bermakna emosional” [Patrick Galbraith and Jason Karlin]. Media seolah menyediakan alat yang sangat kuat agar penontonnya dapat mengidentifikasi sekelilingnya dengan cara yang telah ditentukan media. Melebihi ikatan dan pengalaman manusia tradisional.

Sementara apa yang ditampilkan media menjadi representasi “kenyataan”, simulasi mulai muncul. Hal ini mengantarkan pada perubahan sosiokultural yang lebih luas “dari masyarakat tradisional ke masyarakat tontonan ke masyarakat simulacrum”, simultan dengan meningkatnya komodifikasi citra. Puncaknya, Hiper-realitas mengambil alih. Yang asli diproduksi ulang secara artifisial sebagai “kenyataan baru”. Dibumbui ulang dan diperbarui dalam “halusinasi” storytelling dan kontennya sendiri. Hingga akhirnya batas antara hiper-realitas dan kehidupan sehari-hari idol menghilang.

“simulations come to constitute reality … [and] the reality of simulation becomes the criterion of the real itself” [Postmodern Theory: Critical Interrogations]. Dengan dominasi visual yang dramatis ini, simulasi menyusun emosi, pengalaman, dan sistem nilai individu, menghapus batas antara yang imajiner dan yang nyata.

Gagasan Baudrillard sangat membantu untuk memahami bagaimana para idol / artis, yang mewujudkan fantasi khayalan penonton. Citra idol adalah hasil negosiasi fandom dan idol itu sendiri.

Lalu kenapa memakai persona? Hasil dari persona itu apa? Tentu “reach”, impresi, followers, dan semacamnya. Dengan potensi reach & followers sebanyak itu, idol / artist menjadi brand ambassador untuk produk mewah. Alias jualan. Alias bisnis.

Jika kalian bekerja diperusahaan, bagaimana cara kalian dalam meraih audience yang lebih lebar (selain iklan di platform)?

Simbiosis Kapitalis-Entertainment ini memang sudah jadi rahasia umum sejak dulu.

Pengaruh Interaksi Parasosial Terhadap Hubungan Parasosial, Kredibilitas Endorser Dan Niat Beli Penggemar Syahrini Terhadap Produk Kosmetik Di Media Instagram

Pertanyaan satu juta dollar : untuk apa penyanyi membutuhkan hibriditas persona??

Kemampuan yang harus dipunyai penyanyi adalah musikalitas. Alias kepekaan menciptakan / membawakan lagu yang universal. Oke kalau kalian mengatasnamakan postmodernisme bahwa sedang trendnya perpaduan image/citra dan media 4.0 atau runtuhnya batas musikalitas dan drama.

Tapi yaa batas bawah ‘nalar wajar’ juga harus ada, Untuk apa penyanyi bikin konten atau segala hal berbau non-musik (parasosial) ? Atau sebenarnya idol ini bukan menjual musik. tapi konten non musik. Alias pura-pura jadi penyanyi. Kalian tidak akan menemui hal ini pada artis barat.

Syarat musik yang bagus itu apa? Yang pertama tentu saja instrument/chord. Kedua baru lirik. Sekarang kalian buka channel Youtube IKSON. Itu musik yang bagus. Beragam dan gak ngebosenin. Atau BrunuhVille juga bisa. Misal juga Nell Band (Korea) beberapa liriknya bego sih. Tapi instrumentnya beberapa bagus dan nyambung. Ini adalah bukti bahwa lirik dan lagu memang hal yang terpisah sebenarnya. Kalau kalian menyanjung tinggi lirik, mungkin penyanyi kalian sebenarnya bukan penyanyi, tapi penulis puisi dan skrip drama.

Parasosial sebagai fundamental, bukan musikalitas

.

3. MASYARAKAT KONSUMEN

Konsumen dalam membeli suatu produk bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan semata-mata, tetapi juga keinginan untuk memuaskan kesenangan. Baudrillard, dalam Consumer Society, menjelaskan masyarakat yang dibentuk dan dihidupi oleh konsumsi, konsumsi sebagai sistem pemaknaan tidak lagi diatur oleh faktor kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan, namun oleh seperangkat hasrat untuk mendapat kehormatan, prestise, status dan identitas melalui sebuah mekanisme penandaan.

Fandom Exo China pasang Ads di Burj Khalifa

Menurut pandangan Baudrillard proses konsumsi bisa menjadi (1) komunikasi, Yaitu praktik-praktik konsumsi menjadi punya arti tersendiri. Kedua, sebagai proses (2) klasifikasi dan diferensiasi sosial. Dimana apa yang dikonsumsi (dalam hal ini mensupport idol / Kpop company), (3) ditahtakan dan menjadi (4) pembeda (diantara para hard stan lainnya) sekaligus menjadi nilai lebih. Contoh : dulu ada istilah iPhone adalah “barang mewah”

Tweet ini bagaikan ajakan halus untuk menjadi “Masyarakat Konsumen” sekaligus secara implisit memberikan hierarki terhadap fandom melalui konsumsinya pada album & merch. Akun ini punya sekitar 50rb follower (micro influencer).

PENELITIAN : PENGARUH PESAN KAMPANYE BTS LOVE MYSELF TERHADAP PURCHASE INTENTION PADA PEMBELIAN PRODUK MERCHANDISE BTS LOVE MYSELF JURNAL

Konten Kpop dan Consumerism adalah perpaduan sempurna. Mungkin kita sering mendengar disekeliling kita sendiri, “Eh, loe belum beli kaosnya / albumnya penyanyi ini? Fans abal-abal loe!“. Atau “Lah, loe kenapa gak update merch terbaru? Nggak keren loe..”

https://www.billboard.com/articles/deep-dive/k-pops-merch-madness/9331910/for-the-k-pop-industry-merch-is-as-important-as-the-music

Sepakbola, berlian, video game, termasuk Kpop juga memanfaatkan hal ini. Pasti kalian pernah mendengar bagaimana gamers menghabiskan jutaan hanya demi game. Berlian sebenarnya batuan biasa. Tapi dengan berbagai “isu” (kalau nggak mau dibilang disinformasi) bahwa “diamond is forever”, serta “diamond is very rare” membuat harganya dilambungkan oleh De Beers, memanipulasi supply & demand. Begitu juga Kpopers.

Dalam hal ini Kpop punya atribut lebih lengkap. Storytelling (entah itu benar atau dilebih-lebihkan, atau bisa jadi hoax) Kpop idol alias cerita perjuangan mereka hingga bisa menjadi artis papan atas ikut meramaikan consumer society.

storytelling agar konsumtif

Ntar kalo ada yang ngamuk kayak gini, tinggal bilang “kita bercanda kok.. Ini memang gesekan masyarakat konsumsi yang sering terjadi, cuma beda topik saja.

.

3.1 Apa saja yang mempengaruhi Consumer Society ini?

Perilaku konsumtif bisa dilakukan oleh siapa saja. Perilaku konsumtif seringkali dilakukan secara berlebihan sebagai usaha seseorang untuk memperoleh kesenangan atau kebahagiaan meskipun sebenarnya kebahagiaan yang diperoleh hanya bersifat semu.

Menurut Kotler bisa dibagi 2. Internal dan eksternal :

Internal :

  • Motivasi psikologis (demi gengsi, symbol/status, seksualitas seperti emily, dll)
  • Persepsi / kepercayaan (umumnya dibentuk oleh storytelling influencer / konten Kpop)
  • Usia (usia remaja spending barang-barang tidak pentingnya banyak banget)
  • Keadaan ekonomi
  • Jenis kelamin. Perempuan diliteratur manapun lebih konsumtif. Bahkan dari kasus SMAP kita bisa melihat pergeseran yang dipengaruhi perempuan dalam konsepsi maskulinitas ideal.

Eksternal :

  • Kebudayaan (dampak dari hegemoni)
  • Konten
  • Kelas sosial
  • Keluarga
  • Kultur fandom

Faktor emosi merupakan pemicu paling handal timbulnya perilaku konsumtif. Formulanya ; Advertising power + purchasing power = FANDOM + IDOL GROUP = GOLD MINES

Iyalah.. Apa gunanya punya Fandom besar jika tidak bisa meng-generate cash dari mereka?

Kultur Fandom juga punya pengaruh yang cukup signifikan dalam beberapa kasus konsumerisme Kpop. Budaya fandom terbentuk dari : (1) komunikasi idol – fans, (2) fans – fans, (3) influencer / pedagang, atau mungkin buzzer Kpop Company, (4) konsumerisme, hingga (5) pengaruh dari konsumsi media, dan berbagai variable lain tumplek-blek jadi satu.

Indikator ini saya yang buat berdasarkan pengamatan sederhana dengan pengambilan sample ARMY, EXOL, dan Jamaah Metaliyah dari lingkungan pribadi. Jika pembaca ingin mengkoreksi dengan survey yang lebih mendalam, silahkan tulis dikolom komentar ya! 😁

Contoh kasus EXO. Sehun dan Baekhyun sudah beberapakali terekam media secara langsung bahwa EXO-L (fandom EXO) jangan membeli merch EXO. Belilah makanan atau jaket yang hangat. Meskipun begitu penjualan merch tetap tinggi. Variable (1) tidak valid. Sisanya (2) – (5) bisa jadi pemicu.

Beda kasus dengan BTS. BTS sendiri tidak pernah secara langsung menegur fans nya. Mungkin melalui lagu Pied Paper. Jika tidak secara langsung berarti itu tidak dihitung. Sehingga seluruh variable dan terutama peran influencer serta konten-kontennya sendiri yang sudah kadung terbentuk pada fandom ARMY sejak awal membuat penjualan merch tetap tinggi, saking tingginya hingga terbentuk fenomena “Jungkook Effect”. Dan ini bukan hal yang normal.

Lingkaran setan Kpop companyidol/artis consumerism ini sudah sejak lama. Tidak hanya artis Kpop, tapi juga artis barat. Tapi beberapa artis tercatat pernah melawan monopoly tiket tour. Salah satunya Pearl Jam. Pearl Jam memang salah satu musisi yang standar moralnya jauh diatas rata-rata.

Dan terkadang artis sendiri juga tidak berdaya dalam menghadapi penjualan merch/ticket dari Kpop Company. Pearl Jam aja kalah bray…. Tapi alangkah baiknya langkah pertama yang harus dilakukan Kpop idol adalah memberikan batas wajar kepada fandomnya secara langsung seperti Pearl Jam. Yaitu dengan tidak menormalisasi konsumerisme pada fans atau menggugat monopoly tiket.

.

4. HYPER-REALITAS DAN KETERIKATAN EMOSIONAL

Meskipun Sosial Media adalah cara untuk menghubungkan banyak orang dan mampu merampingkan komunikasi. Mungkin karena hal ini harus dikomodifikasi / layak dijual, atau mungkin ada benturan dengan cara pemasaran dan budaya lain, akhirnya hubungan antara media sosial, budaya, dan individu menjadi rumit. Untuk menganalisis ini, saya pakai teori-teori Baudrillard. Karena teori tersebut mencakup Ilmu Komunikasi, dan pertemuannya dengan budaya, simbol, dunia maya, realitas intersubjektif, dan individu. Filosofi Baudrillard terpusat pada dua konsep “hyperreality” dan “simulation“. Terminologi ini mengacu pada alam yang tidak nyata dan khayal pada zaman komunikasi massa dan konsumsi massa.

Teori Baudrillard ini pun tak dapat lepas dari pengkajian seputar spat kapitalismus. Istilah spat kapitalismus (kapitalisme lanjut) digunakan untuk membedakan corak kapitalisme yang hadir pasca depresi ekonomi tahun 1930-an. Setelahnya, kapitalisme yang tampak di permukaan adalah “kapitalisme dengan wajah humanis”. Salah satunya hadir pada kontrak dalam bentuk “Indentured Servitude” yang ditandatangai artis barat dan Kpop Idol.

Lalu ada pertanyaan dari antah berantah : bukankah idol kebanyakan palsu?

Sebagai front liner dalam kapitalistik, terserah sih mau bilang “keramah-tamahan artifisial” atau apapun. Karena Sikap Pelayanan juga punya pengaruh terhadap Kepuasan Pelanggan. Misal di Indomaret. Jika kasirnya sering menyambut “selamat datang di Indomaret”. Apakah pegawai Indomaret tersebut fake? Tapi sepertinya pembelinya juga puas-puas aja.

Palsu ini diranah emosi atau persona?

Emosi manusia itu tidak selalu pararel dengan citra/image. Tapi Citra bisa menekan emosi. Citra diciptakan oleh keinginan atau fantasi tertentu (dari fans, market demand, budaya, atau idol sendiri) dan akhirnya ‘menghasilkan’ idol yang berdasar pada simulasi. Rata-rata penelitian yang membahas Kpop jika tidak dari sisi pemasaran yaa budaya atau popularitas. Sedangkan hubungan timbal balik ini yang sebenarnya jarang diteliti. Seperti Blood Diamond yang mana pembeli tetap membeli berlian yang ditempa dengan darah masyarakat Afrika. Our Consumerism is the Devil too!

Seiring bertambahnya usia sebuah grup dalam industri, kalian dapat melihat kepribadian dan preferensi mereka dengan jelas. Tidak ada yang benar-benar nyata tetapi yaa tidak semuanya palsu. Idol / artis terlalu sering menjadi pusat perhatian, tetapi pada saat yang sama kalian akan menerima bahwa : sebagai publik figure yang overexposed, mereka pasti punya aturan dan standar yang berbeda.

Ini cara saya untuk mengenali palsu-tidak/benar-salah/hitam-putih serta contoh dalam ranah hyperrealitas & persona:

LEVEL 1 : JUST ACTING

Menurut Hochschild [Gambar diatas], Surface Acting (akting permukaan) terkait dengan tingkat stres yang lebih tinggi dan lebih sedikit emosi positif yang dirasakan, alias Fake level ringan. Sementara deep acting dan Genuine Acting menyebabkan lebih sedikit stres.

Hal ini juga bisa dilihat dari konsistensi Idol sendiri. Umumnya Idol yang punya persona Surface Acting seringkali kontradisksi/tidak konsisten dengan dirinya sendiri. Semisal Jessica setelah meninggalkan SNSD, dalam video ini, ketika mengambil kertas dan dia berkata mau menjawabnya, tapi perilakunya berbeda dengan yang dia ucap. Dia melempar kertas itu ke pembawa acara. Berarti dia sering berbohong.

Sangat banyak idol yang menggunakan Surface Acting ini. Bisa jadi dalam satu grup beberapa member melakukan ini. Blackpink dan banyak boygroup saya yakin juga gini. Terutama yang termasuk dalam daftar top grilgrup atau top boygroup. Sebaliknya, idol yang sering muncul di acara entertainment justru kemungkinan besar akan menggunakan Genuine Acting, yang mereka butuhkan hanyalah pendidikan kepribadian seperti John Robert Power. Seperti bagaimana tidak membelakangi kamera, cara bicara agar tidak ngos-ngosan, public speaking, dll. Idol yang menggunakan ini kemungkinan besar Twice dan SinB Gfriend. Karena akan melelahkan jika terus menjadi orang yang bukan dirinya 24/7. Citra SinB sangat konsisten sejak dulu.

LEVEL 2 : HYPERREALITY

Ada tiga istilah yang diperkenalkan Baudrillard. Simulasi, Simulakra, dan Hyperrealitas.

Simulasi berarti tiruan. Maksudnya adalah realitas tiruan yang masih mengacu pada realitas yang sesungguhnya. Contoh : Peta, Globe (bola dunia), berbagai akun ‘alter ego’ di twitter, dll.

Simulacra. Baudrillard mengartikannya sebagai konstruksi pikiran imajiner manusia atas realitas tanpa menghadirkan realitas itu sendiri secara esensial. Dengan kata lain simulakra adalah ruang dimana proses simulasi berlangsung dan ditandai oleh kehadiran teknologi beserta bentuk kecanggihan didalamnya dan adopsinya di masyarakat. Tidak ada kondisi yang ‘sebenarnya’ melainkan representasi yang dianggap sebagai realitas.

Terakhir adalah Hiperrealitas. Lahir dari sebuah proses simulasi dan simulacra. Inilah yang disebut sebagai segala sesuatu yang dinilai “melampaui kenyataan”—irasional, di luar akal sehat, yang nantinya akan menggantikan realitas yang real sebelumnya. Keadaan runtuhnya realitas, karena telah diambil alih oleh rekayasa virtual yang dianggap lebih nyata dari realitas itu sendiri, sehingga perbedaan keduanya menjadi kabur. Tidak ada lagi yang lebih realistis sebab yang nyata tidak lagi menjadi rujukan.

alias FAKE LEVEL BERAT

Hyperrealism can be said to be a component of postmodernism. In the sphere of the hyperreal, the real and the imaginary continually come into contact with each other. Simulations begin to be experienced as something that is more real than real itself.”

https://www.ukessays.com/essays/english-language/post-modernism.php
IU super junior
Contoh 1 : IU

Objek representasi / realitas buatan / realitas virtual IU yang innocence hingga dijuluki national little sister yang cute, innocence, polos, dll terlalu kuat. Sehingga ketika IU secara tidak sadar memposting hal semacam ini, penggemar IU geger. Realitas buatan tersebut runtuh.

Prisoners Dilemma

Idol Korea adalah contoh sempurna untuk Prisoners Dilemma. Hal ini tentunya akan mengarah business point. Boleh coba dengan utak-atik Pemain 1 sebagai idol, dan pemain 2 sebagai Kpop Company, Pemain 3 sebagai fandom. Tinggal diganti-ganti sebagai cara berlatih melihat dari berbagai sisi.

Contoh 2 : Jungkook

JungKook awalnya berusaha menghadirkan (mensimulasikan) dirinya sebagai Golden Maknae. Simulasi sendiri artinya adalah sebuah tiruan dari sesuatu. Golden Maknae adalah objek representasi yang (mungkin) berasal dari realitas yang sebenarnya atau sebagian sisi pikiran JungKook yg memang hobi mencoba hal-hal baru. Selalu menang pertandingan? Bisa saja kebetulan. Tapi Army sudah terlalu percaya Jungkook akan selalu menang di pertandingan manapun.

Dia adalah golden maknae yang baik hati, low profile, tampan, cute, pemalu, paling lurus, dan paling bertalenta. Padahal bisa jadi sisi Jungkook sebagian besar adalah tipe IDGAF (I don’t give a fvck). Tapi seluruh akun influencer BigHit sudah ramai-ramai dengan sengaja mencitrakan Jungkook adalah Golden Maknae yang seperti itu.

Objek representasi / realitas buatan / realitas virtual (Golden Maknae) tersebut pun menyeruak lahir didunia maya, dengan gema yang berulang dan timeless dari fandom Army di Sosial Media. Karena melibatkan pengalaman dan sisi emosi dari Jungkook. Puncaknya, adanya kepercayaan mutlak fandom Army terhadap kenyataan yang sebenarnya bukan kenyataan. Runtuhnya realitas fandom Army karena rekayasa model/objek (citra, halusianasi,simulasi) yang dianggap lebih nyata dari realitas yang sebenarnya, sehingga mencapai sebuah titik dimana tidak bisa lagi membedakan mana yang sebenarnya dan mana buatan atau biasa disebut hyper-reality.

Kasus JungKook dan tatoo artist, kasus tatoo di tubuhnya, bar Itaewon, dll membuat Jungkook harus memikirkan ulang konsep dan citra tentang dirinya. Antara Jungkook berusaha memberitahu “dia yang sebenarnya” ke Army, atau mungkin Jungkok bingung terhadap dirinya. Karena terjebak dengan persepsi Army dan sisi bisnis.

Kasus diatas (dan masih banyak lagi dari idol lain) adalah salah satu contoh hubungan konsumen-komoditas yang didasarkan pada hubungan timbal balik antara fans dan idol mereka. Konsumen (fandom) dan komoditas (idol) saling mempengaruhi untuk menciptakan standar bagi keduanya. Idol Kpop menampilkan diri mereka dengan cara apa yang penggemar ingin lihat dari mereka.

Kapitalisme memanfaatkan konstruksi pikiran imajinatif manusia guna demi meningkatkan konsumerisme. Termasuk memanfaatkan hater, conflict, hingga Vunerability untuk engagement dan content storytelling.

“Beautiful messes” have a certain allure.

https://www.theatlantic.com/health/archive/2019/01/beautiful-mess-vulnerability/579892/

.

EMOTIONAL ATTACHMENT (KETERIKATAN EMOSIONAL)

Perilaku manusia (terutama perempuan) mudah dipengaruhi oleh emosi. Konsumen / fans sering kali merasa begitu emosional dan intuitif dalam perilakunya, yang terjadi di luar kesadaran mereka. Para marketer pastilah tertarik untuk menarik konsumen secara emosional karena konsumen yang mudah terikat secara emosional sejak dulu selalu yang paling diincar.

menurut PsychologyToday, umumnya untuk mencapai emotional attachment harus menciptakan konten receh, dan berbagai storytelling sesuai kehidupan sehari hari. Lalu penonton sendiri akan otomatis mengasosiasikan konten tersebut dengan emosi tertentu dipengalaman sebelumnya. Mereka kemudian menggunakan emosi ini untuk memberi nilai pada pengalaman serupa yang mereka hadapi di kemudian hari dan kemudian membuat keputusan berdasarkan emosi tersebut.

Salah satu contoh, jika saya Content Creatornya, gini konsepnya agar diterima fans :

Melihat para member melakukan hal-hal receh, akan membuat Army dan BTS terhubung. Menyaksikan member BTS berinteraksi, dan menjadi “diri mereka sendiri” dengan cara yang seolah alami ternyata menyenangkan dan menarik.

Mereka terasa seperti menjadi bagian dari hidupmu karena begitulah cara kerja media sosial. BTS tahu itu dan jika kita bercermin sejenak, begitu juga kamu di akunmu.

Hanya melihat dirimu, disampingku. Tepat dibola matamu” dalam VLive. V mendapatkan 500 juta viewer hanya dengan berbaring di tempat tidur sambil menatap kamera seolah memberi tahu bahwa dia tahu apa yang dia lakukan dan reaksi yang akan dia dapatkan. Banyak Army delusi yang tergila-gila, mereka ingin berada di tempat tidur itu. Sesuai ekspektasi. Fan Service yang sempurna.

Begini emotional attachment menurut website talkspace :

When does it become unhealthy?

Emotional attachment can sometimes get a little too intense and become more of an emotional dependency. This dependency can negatively affect the relationship and your well-being.

The following signs can suggest a potentially unhealthy level of attachment.

You rely on their approval

If you struggle with self-validation and self-confidence, you might define your worth by how others see you. In an unhealthy attachment, your sense of self-worth may totally depend on your partner’s regard.

When you disagree or experience other conflict, this might entirely disrupt your perception of yourself. You might believe they hate you and no longer support your needs.

As a result, you might feel hurt, empty, anxious, or depressed, and your self-esteem might diminish.

These feelings can persist until they do something to demonstrate they still care about you, whether that’s giving a gift, offering physical affection, or complimenting you.

This can become a dangerous dynamic because people with toxic or abusive traits may intentionally manipulate your needs and feelings to control the relationship and keep you dependent on them.

You’ve lost your sense of self

When you believe you need someone and can’t live without them, you might find yourself doing whatever it takes to secure their affection and support long-term.

Little by little, you might begin modifying your habits, interests, and behaviors until they align more with those of your partner.

You don’t know how to function without them

Depending on someone else to meet your needs often means you have trouble meeting them on your own.

Attachments typically develop for this very reason. If you don’t feel secure, loved, or accepted on your own, you’ll look for someone who can offer comfort and security and help you feel less alone.

Unfortunately, relying too much on support from someone else doesn’t teach you how to meet these needs yourself.

If the relationship or friendship doesn’t work out, or other commitments or relationships temporarily prevent that person from meeting your needs, you might feel completely at a loss.

“What would I do without them?” you might wonder. Your fear of losing them might become so intense it manifests in problematic behaviors, like digging into their past or keeping constant tabs on their social media activity.

The relationship is unbalanced

Healthy relationships are balanced and interdependent.

Interdependence represents a middle ground between independence and dependence. Interdependent partners can fulfill many of their own emotional needs, but they also feel comfortable turning to each other when in need of support.

https://www.talkspace.com/blog/emotional-attachment-unhealthy-in-relationships/

The Influence of Social Media Towards Emotions, Brand Relationship Quality, and Word of Mouth (WOM) on Concert’s Attendees in Indonesia

How to Form Emotional Connections with Influencer Marketing

How Emotions Influence What We Buy

Emotional Attachment seperti ini juga bisa menjadi tidak sehat / penyakit. Apalagi kalau dikipasin dengan fans yang punya skill editing lebih, ditambah media yang juga berusaha menormalisasi kehaluan demi klik dan profit, klop. Kehaluan jadi punya jalan tol.

https://www.idntimes.com/hype/humor/muhammad-bimo-aprilianto/foto-editan-bts-jadi-pengantin

.

5. HEGEMONI

Hegemoni menurut Gramsci adalah bentuk penguasaan terhadap kelompok tertentu dengan menggunakan kepemimpinan intelektual dan moral secara konsensus. Artinya, kelompok yang terhegemoni menyepakati nilai-nilai ideologis penguasa. Targetnya adalah kepatuhan, dimana ia adalah langkah pertama menuju dan menjaga komodifikasi budaya.

Budaya memang punya peran dalam pembentukan jati diri. Kemudian, teknologi adalah alat yang digunakan untuk membandingkan identitas tersebut, melalui produk teknologi yaitu media.

Dari hasil bahu-membahu pemerintah Korea Selatan dan Swasta telah membuat Kpop awal tahun 2000an berhasil menggebrak dan bahkan menjadi alternatif kuat dominasi musik negara Barat. Secara umum Korea menyebarkan hegemoni berbagai produk budayanya melalui tayangan hiburan berupa musik (K-pop), serial drama (K-drama), film(K-Film), film animasi, variety/reality show (K-show), video game, K-fashion, hingga produk-produk industri lainnya yang digunakan masyarakat sehari-hari seperti kendaraan, peralatan dapur, elektronik, bahkan kosmetik.

Budaya pop Korea tersebut memiliki keunikan tersendiri. Melalui budaya Kpop yang meniru budaya Jpop, penggemar “diajarkan” bagaimana cara melihat idol.

https://www.forbes.com/sites/williampesek/2019/10/10/bts-cant-save-south-korea-though-its-47-billion-gdp-boost-sounds-good/

Kpop Company seperti SM, YG, JYP juga melakukan hal yang sama. Pemerintah dan swasta bekerjasama pada industri ini.

Bedanya pada skala. Jika “Korean Wave” dilakukan seluruh negara (national culture), Kpop Company melakukannya lebih internal (company/industry culture). Para Chaebol ini tahu mereka tidak dapat melakukannya sendirian.

Tidak hanya difasilitasi pemerintah Korea Selatan, mereka pun bekerjasama dengan berbagai kaum profesional, kaum seniman, dan kaum intelektual, meminta mereka untuk mempersuasi masyarakat melalui berbagai sektor dan dengan berbagai hal, mulai dari musik yang dikeluarkan agensi, narasi-narasi, dll

Dibalik hegemoni apapun akan selalu ada intelektual yang bermain. Ini tuh “The Age of Influence” Kalo kata bukunya Neal Schaffer.

.

6. EFEK HYPER-REALITAS & IDOL DALAM SANGKAR BURUNG KONSERVATIF-KAPITALIS

Jika oleh Baudrillard pemberian “value/nilai” pada idol adalah salah satu ciri membentuk masyarakat konsumtif, perspektif yang sama tapi lebih radikal ada pada teori Fetisisime komoditas yang diperkenalkan oleh Karl Marx. Dalam ekonomi kapitalis, komoditas dijual untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Dalam hal ini, kasusnya bisa berbeda dengan kenyataan dimana fandom sering memberikan nilai mistik dan abstrak ke idolnya, dan tidak menyertakan atau bahkan menutupi nilai ekonominya. Marx menyebut proses itu sebagai pemberhalaan komoditas atau pemujaan komoditas (fetishism of comodity).

Meskipun Korea Selatan dianggap sudah berubah dari sistem otoriter Konfusianisme puluhan tahun lalu, nilai konservatif dalam masyarakatnya belum sepenuhnya hilang melainkan tergabung dengan sistem ekonomi kapitalis yang mapan. [sumber]

Berhubungan dengan teori fetisisme komoditas yaitu adanya kebiasaan kapitalis atau pemilik modal serta produsen yang menanamkan nilai-nilai tertentu pada suatu produk sehingga produk itu tampak lebih menarik bagi konsumen, akhirnya semakin menyebabkan perilaku konsumtif. Serta idol harus menjaga citra baik dan polos mereka agar tidak dijauhi oleh masyarakat konservatif Korea Selatan.

Kondisi yang penuh kerja keras, standard yang terlalu tinggi, lingkungan toxic, dan kebebasan berekspresi yang terbatas telah membawa idol / trainee laki-laki dan perempuan Korea ke dalam sangkar lingkaran konservatif-Kapitalis yang mengubah mereka menjadi tidak lebih dari boneka.

Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari mereka harus mempertahankan citra mereka yang dianggap “seperti dewa-dewi” di antara masyarakat. Sekali salah langkah akan menenggelamkan mereka lebih dalam ke dalam keterasingan dan tekanan mental yang disebabkan oleh masyarakat.

Hal yang cukup membingungkan juga ada di idol perempuan K-pop. Yaitu citra feminin yang kontradiktif antara seorang gadis yang murni dan lugu sekaligus seorang provokator seksual. Analoginya sebagai Mary si pelacur perawan versi Kpop. Kombinasi yang tampak tidak sinkron antara penonton ingin gadis yang lugu, innocence, dan bisa diraih, sekaligus sexy badass.

Perkawinan kapitalisme-budaya seperti Korea seolah memberikan gambaran pada audience perempuan sebuah contoh representasi idol yang seolah-olah perempuan masa kini, yang kenyataannya dibelakang panggung mereka “terikat pada kondisi konservatisme sosial, neoliberal, konsumerisme dan bermusuhan terhadap feminisme“. Pemikiran seperti ini juga mungkin mendera Sulli dan kebanyakan orang yang ingin punya pikiran yang konsisten. [BBC]

Hal ini juga bisa berlaku pada idol laki-laki. Kondisi hyperealitas yang kemungkinan didera adalah (salah satu) alasan yang menyebabkan beberapa idola mengalami depresi berat dan akhirnya mengalami episode bunuh diri (ex-ShiNee). Sulli dan Goo Hara, penyebab kematian mereka mirip; depresi melalui cyber-bullying meskipun kasus Goo Hara merupakan kombinasi dari faktor lain seperti pelecehan seksual.

Dalam perspektif pemasaran, persona yang seolah bertabrakan ini sebenarnya bisa digunakan dalam endorse produk. Misal salah satu produk kosmetik ingin endorse idol yang manis dan cute. Dan brand baju mahal ingin endorse idol yang lebih sexy. Semua ini bisa dicapai seorang idol perempuan. Sebagai sales harus bisa menjual segala macam hal kan?

Sama seperti J-Pop, pioneer dari K-Pop, membentuk idolnya dengan memasukkan pola perilaku tertentu dan fantasi seksual dari penonton Jepang kontemporer. Korea pun begitu.

Dengan strategi pemasaran seperti ini semakin membatasi kemungkinan idol untuk memiliki alternatif pemikiran dan perilaku.

Masalahnya, perilaku “kepribadian ganda” kayak gini juga terkadang bertentangan dengan perspektif secara budaya, sosiologis, dan psikologis individu pelakunya sendiri pada waktu tertentu. Citra memang cukup untuk mendapatkan kepopuleran dan uang, sebagai manusia biasa ? not so much…. Di satu waktu, gagal untuk mencapai perkembangan individu, seorang wanita berperilaku patuh, tunduk, dan tanpa daya seperti anak kecil. Tapi juga secara simultan seorang gadis yang sangat sexy yang bertindak sebagai penggoda dan praktisi sistem neoliberal.

Sekali saja idol perempuan atau laki-laki ini tidak mampu “mengenali fundamental” dirinya dan strategi pasar, atau tidak berusaha woles, maka akan berakhir buruk.

Well, saya pribadi tidak ingin ikut campur dalam hal ini. Karena bermain-main tarik ulur batas moral memang permainan yang biasa dilakukan konglomerat kapitalis, demi profit mereka. Yess… Idol system adalah permainan kapitalis. Rata-rata rakyat biasa seperti saya ketika berusaha memberi garis tegas moral tetap saja kalah dengan “power” mereka. Contoh dalam politik, buzzeRp dan lembaga yang dibayar oligarki sawit akan berusaha menekan batas moral dan hukum.

Buat kalian yang masih belum ngeh bagaimana cara menjual persona, ini salah satu contohnya..

Pengaruh Citra Selebriti Dian Sastro dalam Iklan terhadap Brand Image Panasonic

Di Kpop juga ada indikator yang diukur tiap bulan kok. Brand Reputation.

.

7. BIGGER PICTURE IN POLITICAL ECONOMIC DIMENSIONS

Masing-masing negara didunia sebenarnya berusaha mengembangkan soft power masing-masing. Arti soft power adalah kemampuan untuk menarik dan mempersuasi masyarakat luas tanpa menggunakan paksaan atau perang. Pilar soft power suatu negara adalah budaya, nilai politik, persepsi, keunggulan produk, kebijakan luar negeri (beasiswa), dll.

60 years before BTS, the Kim Sisters were America’s original K-pop stars

Hegemoni bisa dibilang sebutan lain dari soft power tersebut. Budaya populer Jepang telah mengumpulkan cukup banyak peminat di seluruh dunia sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa produk budaya tersebut menarik banyak negara. Hal ini ditunjukkan oleh dua faktor: meningkatnya budaya anime dan manga dan komersialisasinya. Bersama dengan berbagai event cosplay yang mampu menarik peminat, produk kosmetik, video JAV, hingga masakan jepang pun tak ketinggalan. Saya masih ingat awal tahun 2000an ada artikel di Jawa pos tentang salah seorang komikus Indonesia yang protes sedikitnya kesempatan berkembang dibanding komik jepang. Atau bisa juga karena Indonesia punya utang ke Jepang bahkan nomor 2 tertinggi, karena secara geopolitik, punya utang = bisa didikte.

Perbedaannya dengan Korea Selatan adalah adanya dorongan lebih agresif pemerintah Korea sendiri dibanding pemerintah Jepang yang lebih memilih pasar domestik.

Tidak diragukan lagi bahwa image/citra bisa menjadi alat yang sangat ampuh – saksikan kekayaan yang diperoleh artis lainnya untuk apa saja yang mungkin mereka rilis meskipun jelek sekalipun. Atau mark-up dari sebuah brand untuk produk yang pada dasarnya adalah produk generik. Misal : Louis Vitton.

Marketing K-Pop and J-Pop in the 21st Century

Artis sebagai grup biasa sudah dimulai sejak dulu. Tapi Artis sebagai “idol” dimulai di Jepang. “Idol System” J-Pop lebih dulu lahir dan menjadi patokan awal kemunculan idol K-Pop.

Audisi pencarian bintang di televisi (yaitu Sutā Tanjō dan Asia Bagus), yang disiarkan pada tahun 1970-an dan 1980-an menyebabkan terciptanya “First Idol Boom” —suatu periode dalam sejarah musik Jepang yang membentuk ide “visual kei”, yaitu industri musik yang kurang berfokus pada kualitas dan suara musik, tetapi lebih pada visual, tarian, dan persona.

Korea Selatan baru mengimplementasikan Idol System di tahun 1996 dan 1998. Boygrup seperti H.O.T., N.R.G., Sechs Kies, G.O.D dan girlgrup S.E.S., Fin.K.L., dan Baby Vox. Pemerintah Korea Selatan sendiri pasca krisis Asia tahun 90an menargetkan ekspor budaya populer sebagai inisiatif ekonomi baru, salah satu sumber utama pendapatan asing yang penting untuk kelangsungan dan kemajuan ekonomi negara.

Hasilnya? Export kosmetik meningkat seiring semakin populernya musik, TV, dan film Korea, $2,6 billion USD di tahun 2015 dan melonjak hingga $6,5 billion USD.

Dukungan media-media (KBS, dll) dan agensi-agensi (KOCCA, dll) yang dimiliki pemerintah SK pada awalnya. Dengan fasilitas itu swasta dan chaebol (Konglomerat) pasti akan mau menanamkan investasinya hingga lahirlah agensi besar seperti SM, YG dan JYP Entertainment. Agar dapat menjangkau pasar internasional yang lebih besar, agensi-agensi ini membentuk sistem yang kompleks tentang cara operasinya. Akhirnya terciptalah Korean Halu….Maksudnya “Korean Hallyu”.

Lee Soo Man Raih Penghargaan 'Best Management' di Kotler Awards 2017
Pemasaran dimana Sosial Media masih belum ada, dan ketika musik masih America-Centric

Misal Cube Ent sempat punya kontrak agensi dengan RBW Ent untuk Beast dan 4Minutes untuk manajemennya khusus di Indonesia. Atau Mnet / Loen Ent yang menjadi distributor (?) musik dan album untuk agensi yang dananya kecil. Karena agensi hiburan dananya kecil, makanya distribusi musiknya di-outsourcing-kan ke perusahaan yang punya daya jangkau paling jauh.

Dengan TV sebagai media utama mereka saat itu (milik pemerintah dan swasta) untuk publikasi, agensi membuat ‘produk’ mereka sampai ketingkat dimana publik dapat melihat idola sebagai individu yang menginspirasi, tanpa cacat, dari visual, personal, hingga musiknya. Padahal dibalik panggung sangat berbeda kenyataannya. Ini salah satu contoh simulasi yang merubah bentuk masyarakat yang disebabkan oleh informasi massal melalui penyalinan tanpa sumber yang asli (Simulakra).

HALLYU SEBAGAI FENOMENA TRANSNASIONAL

Di Barat, perusahaan musik tidak secara langsung berpartisipasi langsung ke dalam kreasi musik atau representasi visual artis, tetapi hanya sebagai label rekamannya dan pemasarannya. Di Korea, khususnya, di “idol system”, agensilah yang mengambil bagian untuk kendali penuh atas kreasi musik, label rekaman, visual, kebutuhan sehari-hari, hingga operasi plastik, dll semuanya “manufactured by” & secara eksklusif hanya oleh agensi, tidak dibuat secara bebas oleh individu.

Mungkin ada beberapa yang operasi plastik atas dasar keinginan sendiri. Tapi jumlahnya juga tidak sebanding dengan “perintah manajemen”.

Shindong dari Super Junior juga mengaku bahwa awalnya dia tidak berpikir dia membutuhkan operasi plastik tetapi manajemen SM ‘menyarankan’ dia menjalani operasi double eyelids karena “matanya tidak terlihat bagus”. Jadi sebagai Idol yang punya trainee debt, dia menurut saja.

Semua hal di Kpop memang diciptakan dalam mode komoditas, apa pun tentang idol adalah telah ditentukan sebelumnya, dikondisikan, dipelihara, dan dikomersialkan untuk terus mengisi kemajuan industri yang ‘imperatif institusional’. Idola K-pop dikondisikan melalui periode pelatihan intensif, agar menjangkau audience yang luas, dan seirama dengan apa yang audiencenya ingin lihat. Idola benar-benar dibentuk didalam ruangan tertutup dengan berbagai kode etik. Jadi sebenarnya para pemimpin industrilah yang menentukan apa yang akan diterima pemirsa. Idol cuma pion.

  • Stellar Girlgroup dipaksa oleh agensi Pascal untuk tampil seksi. [KOMPAS]
  • The East Light Boygrup mengalami kekerasan fisik oleh agensi. [CNN]
  • Momoland hingga tahun ke 4 belum lunas Trainee Debtnya. Kalo saya lihatnya antara salah strategi, atau memang kurang dana sejak awal, atau dicurangi. Bboomm-Bboomm itu momentum terbaik yang mengantar Momoland ke World Tour sebenarnya.
  • Madtown Boygroup oleh agensi GNI dibiarkan jadi gelandangan dan tidak dibayar.
  • Dan banyak lagi

Bukankah ada idol BTS yang punya saham diagensinya? Itu cerita lain lagi. Ini jadinya konflik kepentingan. Kalian tidak biaa lagi hanya menyalahkan company karena idolnya turut andil.

Dengan contoh yang demikian banyak ini maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Kpop adalah perpaduan kapitalis & otoritarian berbentuk agensi. Karena tujuan utama Kpop adalah politik-ekonomi. Sama seperti Alibaba, dll.

Masuknya Korean wave melalui drama dan musik yang didukung oleh visual artis Korea Selatan membuat daya tarik bagi kalangan remaja perempuan dalam hal fashion seperti kosmetik, pakaian dan aksesoris. Trend fashion tersebut mempengaruhi pola pikir remaja perempuan untuk mengonsumsinya.

Kim Sisters, Wonder Girls, BoA, BigBang, SNSD, EXO hingga BTS hanyalah ALAT pemerintah Korea Selatan untuk menyebarkan hegemoninya. Media & agensi yang membentuk artis, menjadikannya sebagai komoditas sekaligus mengajarkan viewer/fans cara mengkonsumsinya. Semua hal yang terkait selebriti tersebut diformulasikan agar dapat dijual kepada penonton dan pengiklan.

Popularitas musik, TV, dan film Korea memang sejak awal diharapkan memacu pertumbuhan di sektor lain, seperti pariwisata, makanan, dan jumah pembelajar bahasa Korea. Ekspor kosmetik dan produk perawatan kulit, dan hal berkaitan lainnya juga akan ikut meroket.

Karena budaya populer AS telah menjadi hegemoni global lebih dulu, dalam pikiran Chaebol saat itu adalah meniru nilai-nilai dan sistem populer Amerika mungkin akan memberikan peluang sukses yang lebih baik dengan risiko pasar yang lebih sedikit. Para pemimpin dalam industri K-pop dapat dianggap sebagai contoh “dominasi versi lokal pertama” dari mantra bisnis kapitalisme transnasional.

John Lie. K-pop: Popular Music, Cultural Amnesia, and Economic Innovation in South Korea

Idol System adalah praktek konsumerisme, komodifikasi budaya, dan seksualitas, dimana betapa nge-blur-nya garis batas yang membedakan antara produksi ekonomi dan ranah budaya dan ideologis. Meniru pengalaman dan strategi industri J-pop, idol K-pop sama seperti idol Jepang : “diproduksi dan dikemas untuk memaksimalkan konsumsi” [Patrick Galbraith and Jason Karlin].

Idols not only promote the sale of goods and services, but actually are produced by the goods and services that they sell. Rather than idols selling products, we have a system of commodities that is selling idols. By focusing on the idol alone, one loses sight of the network of relations that go into producing the idol … The idol, then, is but a node in the network of the capitalist system of commodities that links producers to consumers. [Patrick Galbraith and Jason Karlin]

Simplenya gini, penampilan idol adalah seperti sandiwara catwalk lima menit yang berdampak kuat pada ide/gagasan tentang standar ketampanan pria dan kecantikan perempuan, serta merupakan bentuk visual terdepan dari konsumsi, yang kemudian meninggalkan dampak signifikan pada ekonomi konsumen lainnya.

HALLYU 2.0

.

8. HOW TO REMOVE THIS SPELLS

Sudah ada banyak contoh bagaimana orang-orang, atau mungkin tetangga, atau mungkin anak sendiri menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat konten Kpop idolanya. Bahkan yang lebih ekstrim menghabiskan jutaan rupiah demi mencukupi hasratnya kepada idola.

Lalu bagaimana cara menghilangkan mantra Kpop / Kdrama yang luar biasa menyejukkan mata ?

Ada beberapa cara sih tergantung siapa, serta usia. Dan pastinya untuk menghilangkan “mantra Kpop”, kita harus mengetahui dulu ilmu dibaliknya. Dalam ruang lingkup Postmodern, batasan antara informasi dan hiburan, citra dan politik, politik dan celebrity worship, dan semacamnya, meledak. Seperti yang ditunjukkan oleh banyak artikel, berita dan dokumenter TV semakin banyak dianggap sebagai bentuk hiburan. Mungkin kita berada diwilayah musik tidak lagi untuk musik (?).

Selain itu, saya pernah baca namanya “Theory of Mind”. Teori pikiran adalah kapasitas pikiran untuk memahami perilaku orang lain dengan menghubungkan mereka dengan proses mental dan emosional diri sendiri. Ketika kita membaca karya fiksi atau menonton konten, kemampuan kognitif ini berperan karena kita membentuk representasi mental dari karakter, menghubungkannya dengan perasaan, pikiran, dan motivasi. 

Konstruksi model mental seperti ini merupakan proses dimana pembaca ‘mengisi ruang kosong’ menurut subjektivitas mereka. Dalam melakukan pekerjaan interpretatif ini audience mengkaitkan simbol untuk memperoleh makna disekitar karakter. 

So lets break it!

  • Untuk remaja

Jika kalian yakin keterikatan kalian pada seseorang / public figure / selebriti sudah kurang sehat atau sudah tidak normal, kalian bisa melakukan beberapa hal untuk mengatasinya secara mandiri.

Pertama, pertimbangkan beberapa kemungkinan alasan di balik keterikatan emosional, seperti:

  1. Takut sendirian
  2. Takut akan kekosongan
  3. perasaan yang tidak pasti tentang diri sendiri
  4. perasaan yang emosional untuk membantu kesuksesan idol sebab storytelling

Setelah Anda memiliki gagasan yang lebih baik tentang pemicu yang mendasari ini, Anda dapat mulai mencari solusi:

  1. Mendedikasikan waktu untuk menemukan diri sendiri dapat membantu kalian untuk terhubung kembali dengan identitas pribadi kalian. coba tulis dikertas apa saja tujuan kalian 5 tahun kedepan. Misal bisa scube dive, bisa pergi ke raja ampat, bisa kursus dan dapat beberapa ilmu baru, jualan online sampai dapat nominal tertentu untuk nyicil beli rumah, dll. Lalu tulis juga rencana untuk bisa meraih tujuan-tujuan itu. Terakhir laksanakan.
  2. Menciptakan waktu untuk diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang kalian sukai dapat membuat waktu menyendiri terasa lebih bermanfaat. Terutama untuk yang suka menulis fan fiction gay idol. Coba tulis novel sekalian. Atau lebih baik membaca ebook digital. Saya punya ebook digital berbagai topik kalo mau. Atau coba juga kursus online yang ada project-nya. Pergi ke kafe/warkop lalu belajar disana dari sepulang sekolah/kuliah – sore. Waktu jadi berharga.
  3. Hidup memang tidak pasti, tapi lebih baik membangun dan memperkuat hubungan positif dengan teman dan keluarga. Hal ini dapat membantu kalian dari konten yang bersifat emotional attachment.
  4. Well, storytelling / cerita dibalik kesuksesan itu bisa saja bukan cerita yang sebenarnya. IA bisa jadi adalah cerita yang keliru. Diposting oleh seseorang, lalu diceritakan secara berulang dan tak kenal waktu oleh besarnya fandom, sehingga tampak menjadi kebenaran. Cerita yang keliru itu bisa diketahui, salah satunya tidak konsisten. Atau galang project sosial atau bisnis kecil-kecilan bersama teman-temanmu. Bukankah cerita tentang dirimu dan keluargamu adalah cerita terbaik?

Intinya adalah Gnothi Seauton atau “Know ThySelf”. Apa maksudnya? maksudnya adalah untuk menjadi orang yang bijaksana dan untuk mendapat pengetahuan yang absolut, manusia harus menyadari ignorance yang ada didalam diri masing-masing dan kemudian menghilangkan segala asumsi-asumsi yang tidak ia ketahui kebenarannya untuk kemudian manusia dapat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Lalu membuat pengetahuan itu menjadi hal yang positif dan menghasilkan sesuatu yang berguna.

.

  • Lalu bagaimana dengan orang tua yang anaknya kecanduan Kpop?

“James Dashner, author of the bestselling The Maze Runner series, said that the ages of 10 to 15 were his most magical time of reading……creates a world to aspire to. It’s interesting, exciting, and helps you learn about the world better. It takes the impossible and makes it plausible.” [Why is fantasy important for teenagers]

Tidak bisa dipungkiri sih, masa berfantasi dengan karya fiksi umumnya antara umur 10-15an. Seumur hidup mungkin kita juga berfantasi. Hanya saja caranya beda, sesuai usia dan minat.

Selain sebagai wujud pengungkapan perasaan si anak, cerita fantasi juga mampu membuat anak yang suka membaca, berani berbicara, mampu bercerita dan bahkan mampu menciptakan cerita versi mereka sendiri. Itu semua karena hasil dari kisah-kisah pada cerita fantasi yang mereka dengar atau baca.” [Cerita Fantasi dan Perkembangan Jiwa Anak]

Umumnya jika ada gejala tidak beres, orang tua sudah tahu. Dan tidak perlu menunggu ketika anak mulai tidak beres dengan streaming youtube nya.

Biasanya para orang tua akan menyanggah ; “anak gue baik-baik saja kok. biasa saja perilakunya

Well, Mom/Dad, jika anak kalian ketergantungan pada Konten Kpop, run bts episode tiap minggu, bon voyage, in the soop, atau apapun itu, dan vlives para idol untuk stabilitas emosional dan kenyamanan, it means ur child needs attention and love.

Para orang tua bisa mengajari anak sedini mungkin :

  • value dari uang.
  • cara menabung, untuk apa saja, dan efeknya untuk masa depan anak
  • tontonan yang sehat. Saya punya keponakan umur 5 tahun yang suka streaming Upin dan Ipin, Nussa dan Rara, dan tidak berakibat apa-apa. Selain beberapa kosakatanya jadi berdialek malaysia. Dalam hal ini orang tua memang harus peka.
  • diajari banyak praktek. jika anaknya suka menggambar. mungkin bisa dibelikan alat gambar, atau photoshop, atau tablet + spen yg kurang dari 2jt. Atau kalo lmau lebih murah beli sana pen stylus untuk capacitive. Jika kedepan anak tidak suka menggambar lagi, ya tidak apa-apa. Asal anak sudah pernah mencoba. Atau bikin pesawat dari kardus, dll.
  • bacaan yang sehat. Mengajarkan minat baca yang sehat pada anak,

Intinya bagaimana hobinya bisa berpengaruh positif bagi masa depan. Saya yakin sebagai orang tua, kalian akan lebih suka kepada anak yang lebih suka berfantasi kemana arah Terabithia, atau seberapa jauh jaraknya dengan Rivendell. Apakah Hogwarts juga ada ancaman Uruk-Hai, dan semacamnya.

  • Batas nalar wajar untuk kewarasan

Mulai sekarang kita harus membiasakan memberikan batas nilai kewajaran pada hal yang sekiranya membutuhkannya. Misal ; Politisi tidak ada hubungannya dengan citra/image “Orang Baik”. Nilai batas wajar harus diterapkan karena yang dilihat dari politisi adalah integritasnya, penilaian moralnya, bagaimana ia bisa memacu ekonomi, atau mengelola perubahan.

Dalam hal idol, cukuplah idol sebagai penyanyi didunia hiburan. Tidak menormalisasi Jungkook Effect, tidak menormalisasi perilaku shipper / fujoshi boyxboy yang justru lebih ganas, tidak menormalisasi fanfic, Oppa Is Mine, dll

.

.

.

https://www.huffpost.com/entry/fandom-meaning_b_3890201

Alperstein, NM 1991, ‘Imaginary Social Relationships with Celebrities Appearing in Television Commercials’, Journal of Broadcasting and Electronic Media.

https://www.friendlyorganicscanada.ca/2019/11/parasocial-interactions-good-for-business/

https://www.qureta.com/post/simulakra-dan-literasi-di-dunia-hiperrealitas

http://www.sbs.com.au/news/article/2013/03/19/k-pop-effect-south-koreas-obsession-beauty

From B2C to B2B: Selling Korean Pop Music in the Age of New Social Media

Digital Culture and Social Media

Gooyong Kim, Douglas Kellner – From Factory Girls To K-Pop Idol Girls_ Cultural Politics Of Developmentalism, Patriarchy, And Neoliberalism

https://www.daytranslations.com/blog/marketers-can-learn-k-pop-industry/

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started