CHAPTER 2 – DEBUNKING MYTH – BTS AS POLITICAL TOOL

DEBUNKING MYTH:MANIPULASI & ALAT POLITIK

BeyondMind

Updated 24 maret 2022

Updated 29 maret 2022

Updated 16 April 2022

Updated 27 April 2022 – Final

Jika kamu sering bertanya dan penasaran kok bisa Bighit/BTS sangat terkenal sedangkan lagu mereka sendiri banyak yang kurang didengar GP (General Public), maka kamu tidak sendiri. Disini kita akan membahas dari strategi Bighit/BTS. Apa saja langkah yang mereka ambil diluar non-musik, dan bagaimana Bighit bisa meraih pertumbuhan yang tidak wajar.

Pertumbuhan Hybe sendiri –yang terlalu cepat– juga sebenarnya punya sisi kelamnya. Everything has its price. Yuk kita coba bongkar…

1. BEGINNING OF HALLYU
2. GOVT SK, BIG 3 & CREATIVE POWERHOUSE
3. BTS, HYBE & POLITIK
4. SOCIAL MOVEMENT
5. Buzzer / Influencer bayaran Bighit/Hybe untuk penggiringan opini, how to detect?

.

1. BEGINNING OF HALLYU

Meskipun internasionalisasi dan globalisasi telah diserukan pendahulunya pada awal 1980-an, baru pada 17 November 1994 Presiden Kim Young Sam secara resmi menguraikan visinya sendiri setelah pertemuan APEC Summit di Sydney, Australia.

Apa yang disebut Deklarasi Sydney lebih dari sekadar deklarasi. Hal ini terbukti dengan reorganisasi besar-besaran cabang eksekutif pemerintah Korea agar lebih cocok untuk dorongan globalisasi untuk lebih habis-habisan. Sejak awal 1995, “demam globalisasi” telah melanda negara ini. Tidak ada keyword lain yang lebih umum digunakan – dan disalahgunakan – di antara para politisi, pembuat kebijakan, pengusaha bisnis, akademisi, dan jurnalis.

Way Back Wednesday: Hyun Jin Young, the very first SM artist

Kim Sisters adalah awal mula soft power Korea. Lalu muncul Hyun Jinyoung tahun 1990 sebagai soloist pertama yang membawa Hip Hop Amerika ke Korea. Barulah Seo Taiji and Boys menarik perhatian tahun 1992-1996, Kemudian SM Entertainment memulai dengan debut H.O.T pada tahun 1996 dan S.E.S pada 1998.. Lalu DSP Media dengan Fin.KL (1998). Hallyu sendiri berasal dari istilah China yang artinya “Gelombang Korea” dan muncul sekitar 1998. Trend tersebut tiba-tiba menanjak ketika Drama juga memulai menunjukkan taring yang lebih luas (“Swiri”, “Autumn in my heart”, “My Sassy Girl”, “Winter Sonata”).

Hal ini kemudian diteruskan President Roh Moon-Hyun (2003-2008). Kebijakan Roh dan tren saat itu di pasar film Asia telah mempengaruhi industri film dan media Korea. Lee Myung-bak (2008-2013), pengusaha-sekaligus-presiden, menekankan efektivitas bisnis, neoliberalisme, dan kebijakan yang didorong oleh ekspor yang telah mempengaruhi setiap sektor masyarakat Korea.

Pemerintah Korea menyarankan bahwa Hallyu harus bekerja sama dengan perusahaan global Korea, bisnis IT, dan kebijakan luar negeri pemerintah untuk menembus pasar Asia dan memanfaatkan keuntungan maksimum untuk membangun “Global Korea”. Produser Korea bisa mendapatkan modal untuk film-film Kdrama dari negara-negara di luar Korea, seperti Jepang. Orang-orang di banyak negara seperti Indonesia, Singapura, Cina, Vietnam, Jepang, Taiwan, dan Hong Kong disuguhi dengan banyak film baru dari tahun ke tahun. Fakta bahwa Parasite adalah film non-Inggris pertama yang memenangkan Film Terbaik di Oscar bersama 3 Academy Awards lainnya merupakan bukti pengakuan global atas peningkatan kualitas dan keaslian produk hiburan Korea.

Selain film, musik pop Korea oleh band-band musik Korea juga melejit dalam 10 tahun terakhir. Seseorang tidak perlu menjadi penggemar K-pop untuk mendengar band-band seperti Big Bang, Super Junior, PSY atau Girls’ Generation. Empat band musik Korea paling populer ini secara kumulatif telah menjual lebih dari 238 juta rekaman di seluruh dunia.

Pemerintah Korea juga menyadari dan menekankan nilai ekonomi dari industri budaya dan media. Pemerintah sejak awal 1990-an telah mendukung industri budaya dengan mendirikan Biro Industri Kebudayaan (Culture Industry Bureau) untuk pertama kalinya di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Ministry of Culture and Tourism) pada tahun 1994 dan dengan memberlakukan Undang-Undang Promosi Film (Motion Pictures Promotion Law) pada tahun 1995, yang mendorong perusahaan-perusahaan besar (chaebeol) untuk berinvestasi di industri film.

Divisi tersebut bersama dengan “Popular Culture Industry Division” dan divisi lainnya disebut sebagai Cultural Content Office. Anggarannya sebesar USD 5,5 Billion, dengan tujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya melalui pertumbuhan industri ekspor industri budaya negara. Selain itu, pemerintah Korea mensponsori 20-30% dari dana investasi USD 1 Billion yang dialokasikan untuk memelihara dan mengekspor budaya populer. Sisa dana berasal dari bank investasi dan perusahaan swasta dan dikelola oleh Korean Venture Investment Corporation.

https://www.mcst.go.kr/english/about/history.jsp

Menanggapi upaya pemerintah ini dan peluang untuk menghasilkan keuntungan di sektor ini, chaebeol secara aktif berpartisipasi dalam industri ini tetapi harus mundur sementara setelah krisis ekonomi 1997 di bawah skema restrukturisasi yang diamanatkan IMF. [Jonghoe Yang]

Partisipasi mereka telah meninggalkan warisan penting dan positif dalam industri ini dalam bentuk profesional muda berpendidikan tinggi dengan keterampilan manajemen terbaik. Kim Joo-sung, presiden CJ Entertainment, konglomerat media paling berpengaruh di Korea Selatan, berkomentar:

“The ultimate goal of the media business in CJ Entertainment is to produce and supply the best-quality contents in Asia, and grow to become “Asia’s number one total entertainment group.” We want to be recognized alongside the pre-existing industrial players like semiconductor, manufacturers, shipbuilding companies, and automobile manufacturers, as one of the “world’s best Korean companies.”

Kim Joo-Sung (Korean Film Council 2007, 106)

Kemudian, pemerintah Korea mendirikan Korea Foundation for International Cultural Exchange (KOFICE) untuk mengatur semua upaya pemerintah dan swasta dalam pembuatan Hallyu. Menurut dokumen resmi, KOFICE menyatakan maksud dan tujuannya:

Different countries around the world are cultivating their cultural industries competitively. They are in an intense competition to take cultural industries as the means to revive the nation’s economy and to step onto the global stage. Korea, too, is focusing on the unlimited potential of its cultural industry and has recognized the cultural industry as a new growth engine.

KOFICE 2008

Kolaborasi akademik-industri, dimulai dan dikembangkan di Korea. Meskipun beberapa tahun sebelumnya telah ada, namun tidak signifikan. KOCCA pun terbentuk pada tahun 2009. Pemerintah Korea telah menggelontorkan sejumlah besar hibah penelitian, beasiswa, dan dukungan keuangan dan insentif ke lembaga penelitian dan universitas yang dipilih. Menurut Young-Hwa Choi (2013), departemen akademik baru di universitas bernama “cultural industries,” “culture and contents,” “cinematic contents,” “digital contents,” and “digital culture and contents” telah meroket, dari 932 pada tahun 2006 menjadi 1.478 pada tahun 2010.

Selama pemerintahan Presiden Roh (2003-2007), tujuan nasional utama yang dideklarasi adalah untuk menjadi salah satu dari “the world’s top five content powers in 2010” dan Korea Creative Content Agency didirikan pada tahun 2009 untuk mempromosikan dan mendukung produksi konten budaya populer Korea. Para pengusaha besar Korea Selatan (chaebol) yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintah mulai mengalihkan perhatiannya ke media dan industri kreatif. Sementara departemen baru atau yang diperbaharui itu menghasilkan pekerja budaya berpendidikan perguruan tinggi yang telah dilatih untuk menghasilkan “konten Hallyu,” organisasi akademik yang didanai pemerintah dan nirlaba telah memikat para sarjana di hampir semua disiplin ilmu di Korea dan bahkan di dunia.

Sampai-sampai, “Tidak mungkin menjadi kritis,” keluh Choi, “karena hampir semua disiplin akademis di Korea telah menerima hibah dari pemerintah untuk meneliti strategi dan menciptakan konten budaya untuk pembangunan Hallyu yang berkelanjutan sehingga sulit untuk dikritik.

Penelitian Hallyu di Korea segera berpindah dari sekedar pendekatan tingkat awal tentang studi budaya / media, menuju implementasi langsung ke bidang ekonomi, bisnis, ilmu pengetahuan / teknologi, dan pariwisata, yang menekankan, “keunggulan universal dari Budaya Korea atau efek ekonomi dari fenomena...” (Hyun Mee Kim 2005).

Meskipun banyak faktor telah sangat mempengaruhi kelahiran dan evolusi Hallyu, salah satu pendorongnya adalah manajemen yang cermat dan efektif dari semua titik. Titik disini adalah dimana pelanggan berhubungan dengan Hallyu. Industri hiburan, berbagai organisasi yang terlibat dalam film, perusahaan musik, perusahaan game online, chaebol Korea, dan pemerintah Korea telah dengan cermat mengatur upaya mereka dalam memastikan pengalaman yang konsisten. Penyelenggara acara besar seperti Olimpiade PyeongChang 2018 dan Paralimpiade Musim Dingin juga telah membantu membangun persepsi yang lebih positif tentang Korea. Semua pemain ini telah memastikan penggambaran aspek menarik dari budaya Korea di media masing-masing. Dengan kata lain Pemerintah Korea adalah pencipta sekaligus promotor utama Hallyu.

.

2. GOVT SK, BIG3 & CREATIVE POWERHOUSE

Tahun 2006, perusahaan hiburan sudah mulai mendapatkan hasil dari jerih payah penelitian dari bantuan Pemerintah Korea Selatan serta jutaan dollar modal. SM (SNSD, SUJU, TVXQ), YG (Bigbang), JYP (Wonder Girls) mulai menguasai pasar Asia. Saat itu tidak banyak yang sukses dipasar Amerika & Korea. BoA, Se7en, bahkan Wonder Girls harus mundur dari Amerika karena tahun-tahun itu bertepatan dengan Krisis Mortgage 2008. Saking hebatnya krisis itu, banyak warga yang sebelumnya mempunyai rumah bagus dan pekerjaan stabil menjadi gelandangan.

Sebelum kegagalan JYP, SM sudah mencoba dengan BoA. Dengan hasil kurang menjanjikan, BoA terpaksa harus balik ke Korea. Baru ketika tahun 2011 ketika keadaan Amerika dan Eropa sudah lebih baik, SM mencoba kembali dengan ekspektasi rendah.

Lima grup idola dari agensi hiburan Korea SM—Tong Bang Shin Ki (alias TVXQ), Girls’ Generation (So Nyeo Shi Dae, alias SNSD), Super Junior, f(x), dan SHINee—mengadakan konser pertama mereka pada Juni 2011 di Le Zenith de Paris, dan lebih dari 14.000 penggemar dari seluruh Eropa berkumpul untuk melihat K-pop. Tiket konser pertama terjual habis hanya dalam waktu lima belas menit ketika pemesanan online dibuka pada 26 April, dan ratusan penggemar Prancis yang gagal mendapatkan tiket memprotes dengan menampilkan flash mob dance di depan Louvre (Cha dan Kim 2011).

S.M. pun buru-buru menjadwalkan dua konser lagi, menanggapi permintaan eksplosif dari para penggemar.

Lee Teuk, pemimpin boyband Super Junior, berkata, “Saya pikir K-pop mendapatkan popularitas terima kasih atas sistem global S.M., komposer dan koreografer asing, dan penampilan penyanyi. . . . Itu juga dibantu oleh situs jejaring sosial, seperti YouTube” (Jung 2011c, 123). Pada bulan Februari 2012, grup pop sembilan gadis Korea Girls ‘Generation membuat debut resmi mereka di AS setelah sukses luar biasa di Jepang, di panggung CBS’s The Late Show with David Letterman. Single Girls’ Generation yang ditargetkan di AS “The Boys,” disusun oleh artis musik Amerika Teddy Riley dengan sentuhan akhir Snoop Dogg, dirilis secara bersamaan. Girls’ Generation dan agensinya S.M. menerapkan strategi baru kali ini, setelah “pelajaran” berharga mereka dari Paris, dengan menggunakan media sosial seperti YouTube, Facebook, dan Twitter sebagai alat pemasaran baru dan kuat.

Kebanyakan artikel akan menyebutkan Psy (2012) sebagai awal mula Kpop menjadi global. SM Ent sendiri telah memulai Kpop sejak 1996 dan mendapatkan jejak pertamanya di Zenith, Paris pada tahun 2011. SM telah mencoba semuanya ketika penelitian Hallyu sendiri masih di-early stage. Itulah kenapa Kpop jaman dulu sangat “keras” karena sebagai pelopor, belum ada system yang ‘benar’. Jangankan System, aturan saja belum ada. SM, JYP, DSP, dll semuanya masih “mencoba”.

SM stars to perform 2nd Paris concert

.

3. BTS, BIGHIT/HYBE, DAN POLITIK

Banyak sekali artikel dari berbagai web anonymous, advertising dari berbagai brand dan artis –antara dibayar atau ingin ikut mendapat profit/influence–, berusaha menarasikan bahwa BTS adalah the most global act, the most legend artist, paved the way, dan julukan-julukan lain.

Situs-situs dotcom juga berusaha menampilkan sisi kultus ini seperti hollywoodlife dan billboard yang menulis “berita opini” demi clickbait. Yang paling disorot, tentu saja pengakuran langsung dari politisi, figur-figur paling berpengaruh di Korea Selatan, hingga presiden dan istri presiden Korea Selatan pun berulang-kali mengucapkannya.

Sekarang, daripada secara pasif membiarkan K-pop atau drama Korea hanya terus-menerus menarik penonton di seluruh dunia, pemerintah Korea Selatan dibawah rezim Moon Jae-In ingin terlibat aktif dalam mengubah budaya pop yang kuat di negara itu menjadi soft power sejati. Di berbagai kesempatan, tujuan ini melibatkan membawa selebritas langsung ke acara diplomatik tradisional, meminta mereka untuk memberikan pesan dukungan sebelum negosiasi besar, dan banyak lagi.

Namun dengan sikap yang lebih aktif ini, pejabat Korea Selatan harus strategis dalam bagaimana mereka menggunakan kekuatan selebriti (engagement, massive opinion, dll). Saat ini, proses yang tampaknya agak coba-coba mulai menemukan polanya—secara acak mengundang selebriti tertentu ke acara politik tertentu dengan harapan tidak hanya menarik penonton dari penggemar global, tapi juga tujuan politik yang sensitif. Agar Korea Selatan benar-benar memanfaatkan potensi politik budaya popnya, bagaimanapun, pemerintah perlu lebih berhati-hati dalam menghubungkan pengaruh selebriti dengan tujuan kebijakan luar negeri tertentu.

Faktanya adalah : pertumbuhan Hybe adalah pertumbuhan politik. Bukan sekedar Pemerintah SK yang membantu perusahaan entertainment dengan penelitian, undang-undang, serta dana subsidi, Hybe mengembangkan “hubungan” ini lebih jauh, yaitu ikut dalam propaganda politik SK dan US. Dan dengan deal dibawah meja.

The truth about lobbying: 10 ways big business controls government

Dalam berbagai jurnal karya White (2018) atau Kim Milner (2019) menjelaskan peranan korporat/perusahaan yang di dalam diplomasi publik. Negara tetap diakui sebagai aktor utama dan pusat dari diplomasi publik, namun anggapan bahwa aktor non-negara termasuk perusahaan internasional dapat memainkan peran dan memberikan kontribusi kepada outcome diplomasi publik negara tersebut.

Di Korea sendiri, perusahaan swasta diutamakan dalam pinjaman modal karena Park Chung-Hee ingin Korea mandiri. Lima teratas Chaebol, jika digabungkan, mewakili sekitar setengah dari nilai pasar saham Korea Selatan. Dengan adanya koneksi politik pada perusahaan membantu pegawai dan direksinya agar memiliki “hasil tangan” pada undang-undang dan peraturan dan memberi mereka akses ke informasi yang hanya diketahui orang dalam, yang memungkinkan mereka mengantisipasi perubahan ekonomi dan mengurangi ketidakpastian. Di sisi lain, masuknya politisi ke dunia bisnis memungkinkan politisi untuk menerima dukungan keuangan selama periode pemilihan, pada dasarnya dalam bentuk sumbangan, atau mungkin saham pada perusaan tersebut ketika IPO.

Political Connection, Corporate Governance, and Firm Value: Indonesian Evidence

BTS dan Bighit sejak awal dibantu pemerintah Korsel. Apa yang menjadi prestasi BTS hanya sedikit yang organik. Sebagian besarnya non-organik. Lalu sejauh apa campur tangan Pemerintah Korsel dalam kesuksesan BTS & Bighit? Yuk kita review satu-satu.

.

1.Kerjasama dengan Seoul Metropolitan Government sebagai Seoul Ambassador. (Sept 2017)

Sejak 2017 hingga 2021 bertutut-turut BTS menjadi Seoul’s Honorary Tourism Ambassadors (Duta Pariwisata Kehormatan Seoul). Situs web pemerintah “Imagine Your Korea” memberikan daftar lokasi video musik BTS dan sampul album, mendorong wisatawan untuk mengunjungi situs tersebut untuk “recreate the scenes yourself, or simply bask in the knowledge that your bias was once standing in the exact same spot, breathing the same air, and seeing the same view.

2016-2017 adalah awal mula (dalam catatan penulis) BTS bekerjasama dengan pemerintah –bertepatan dengan kenaikan Moon Jae-In–. Tahun 2017-2018 juga tahun Bighit mendapat suntikan dana dari Netmarble (Saudara Hitman Bang) sebesar $200jt USD. Saat ini juga Pemerintah Korsel melalui Seoul Metropolitan Government mendanai episode Run BTS.

Konglomerat rekanan pemerintah Korsel (Hyundai, Samsung, CJ) pun ikut serta dan membantu proyek ini dengan mengeluarkan data statistik. Yang mana data ini bisa saja buatan. How to Lie with Statistics karya Darrell Huff telah membuktikannya.

Kenapa saya tidak percaya? Bandingkan dengan SM / YG yang punya beragam anak perusahaan serta ribuan karyawan. SM sendiri mempunyai 39 anak perusahaan serta memberikan sangat banyak insentif kepada karyawannya.

2.BTS menang Top Social Artist Billboard fan-vote (Okt 2017)

Awal eksposur BTS dikancah internasional dimulai dari sini. Tidak perlu kaget hal ini sangat bisa diraih oleh Artist yang punya fandom global. Tapi fan-vote award seperti ini juga punya sisi yang sangat meragukan dalam hal kredibilitas.

Berikut analisa dari DFRLab dan Geoff Golberg tentang bagaimana fandom Army membuat 2 akun atau lebih untuk vote. Bahkan juga terdeteksi bot.

3.Jejak Ahn Min-seok dan pengecualian WAMIL BTS, dari anggota parlemen partai Demokrat,  Komite Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata, hingga menjadi karyawan BIGHIT Ent (21 Sept 2018)

Ahn Min -Seok

Politisi Demorat (partai yang sedang berkuasa), Ahn Min-Seok lah yang pertama kali menyuarakan pengecualian Wamil untuk BTS serta reformasi UU Wajib Militer [koreaherald]. Komentar politisi, sekaligus Ketua Komite (Chairman of the Education, Culture, Sports and Tourism Committee) tersebut muncul setelah Asian Games di Indonesia, di mana setiap anggota tim nasional sepak bola Korea Selatan, termasuk Son Heung-min, dibebaskan dari wajib militer karena memenangkan medali emas.

Meskipun Ahn Min-Seok sempat meminta maaf, komentar tersebut sudah kadung menjadi bola liar yang setiap tahun dihembuskan politisi demokrat lain. Cukup satu suara, diulangi lagi oleh politisi lain, dijadikan headline media, maka misi telah sukses. Setelahnya adalah bagaimana mengatur politisi lain agar memasukkan ide tersebut kedalam konggres.

Bighit/Hybe tidak perlu bersuara. Karena suara Bighit/Hybe telah diwakilkan politisi. Setelah tugas menggulirkan ide selesai, Ahn Min-Seok menjadi karyawan di Bighit Ent pada pertengahan tahun 2020 di Risk Management Departement [sumber]. Tepat ketika ide pengecualian Wamil telah sampai di konggres.

4.BTS diundang ke UN (PBB) oleh UNICEF Korea (24 Sept 2018).

Ditemani First Lady Korsel, Kim Jong Sook, BTS diundang oleh UNICEF Korea ke UN 2018. Tidak kaget. Dalam sejarah, sejumlah selebriti seperti Angelina Jolie, dan Maria Sharaprova diberitakan pernah menjadi ambassador UN. UN memanfaatkan kekuatan selebriti yang punya daya tarik dan engagement global. Ini adalah langkah awal Korea Selatan dibawah Moon Jae-In berusahan mengambil langkah lebih jauh dalam soft power dan politik sensitifnya.

5.T-Shirt Atomic bomb Jimin di Jepang (9 Nov 2018)

BTS menjadikan US dan Jepang sebagai pasar utama. Tapi hal ini tetap terjadi. Sejak dulu BTS menjual berbagai barang yang muncul di Run BTS dan In The Soop sebagai merch. Mulai dari mug, hingga tas. Jadi konten-konten BTS tersebut pastinya dibuat secara detail. Lalu mengapa insiden ini tetap terjadi? Apakah disengaja?

Korsel dan Jepang sejak dulu mempunyai sejarah yang rumit. Perselisihan dagang dan politik sering berlangsung. Kemungkinan paling tinggi adalah BTS berada ditengah suruhan politik. Atau sekedar ingin meraih engagement dari masyarakat Korsel yang anti-Japan(?).

6.BTS diundang langsung oleh Pangeran Arab, untuk membersihkan diri dari pembunuhan Khashoggi. (11 Okt 2019)

Siapa itu Kashoggi? Dia adalah salah satu Jurnalis yang dibunuh ketika memasuki Konsulat Arab Saudi. Meski membantah terlibat dalam kasus tersebut, otoritas Saudi terkenal buruk dalam perlindungan kebebasan politik, termasuk di bawah pimpinan Mohammed bin Salman (tirto). Arab Saudi tercatat sebagai negara yang bertanggung jawab atas beberapa pelanggaran hak asasi manusia terburuk.

Seberapa pun kerasnya Fandom Army mencoba untuk mengurangi reaksi dari konser yang mendukung rezim otoriter yang kejam dengan “Mereka hanya musisi! Bukan politik!”, tetap saja BTS adalah alat politik. Lucunya terbit artikel palsu tentang konser yang terjual habis (padahal tidak terjual habis, terjual kurang dari setengah kapasitas).

Meskipun banyak juga sebagian fans BTS mendukung keputusan BTS, tapi sebagian menolak dengan tagar #BTSdontGo. Karena langkah ini dianggap sebagai reputation washing Pemerintah Saudi atas apa yang terjadi terhadap Khashoggi.

Sementara sebagian Army mengubur kepalanya dipasir dan mempertahankan denial mereka setinggi Menara Eiffel bahwa konser itu “hanya untuk penggemar!”, Presiden Korea Selatan Moon Jae-In secara resmi mengatakan bahwa Pangeran Mohammad Bin Salman mengajukan petisi kepadanya untuk mengirim BTS untuk konser.

 Arab Saudi baru-baru ini menggunakan pengaruh selebriti, seni, dan media sosial, dalam upaya untuk mencoba dan menutupi catatan hak asasi manusia mereka yang mengerikan dan meningkatkan pariwisata

Di pihak pemerintah Korea, keuntungan mereka adalah kesepakatan 8,3 miliar dolar dalam hal energi, motor, pariwisata, dan kesehatan. Dengan setuju untuk tampil, BTS mematuhi bahwa mereka digunakan sebagai pion politik oleh pemerintah mereka sendiri untuk membantu kerajaan genosida dan meningkatkan citra mereka.

7.Pemerintah Korsel & Bighit dibalik Learn Korea! (6 Okt 2020)

Pada Agustus 2020, Korea Foundation yang merupakan afiliasi alias perpanjangan tangan dengan pemerintah Kosel mengumumkan bahwa mereka bermitra dengan Big Hit dan Universitas Hankuk untuk mensponsori kelas bahasa dengan buku teks di enam universitas di empat negara di seluruh dunia—termasuk Sekolah Bahasa Middlebury yang bergengsi di Amerika Serikat.

Seperti yang sejak awal penulis utarakan, Pemerintah Korsel yang sejak 2006 menciptakan dan membiayai berbagai riset dan program mengenai Kpop & Korea, agar berkembang dan memiliki implikasi secara langsung. Dengan kata lain, Learn Korea! adalah program pemerintah dan BTS menjadi sampulnya. Hal ini bisa dilihat bahwa kesuksesan BTS sendiri adalah dibentuk pemerintah Korsel. Tentu hal ini tidak autentik.

8.KONTROVERSI BTS DENGAN CHINA. HINGGA (LAGI-LAGI) PEJABAT MILITER KORSEL TURUN TANGAN. (13 Okt 2020)

Korea Society, sebuah organisasi nirlaba berbasis di AS, memberi penghargaan ke BTS pada 7 Oktober 2020. Penghargaan tersebut dikenal dengan nama ‘General James A Van Fleet’, seorang komandan AS yang bertempur dalam Perang Korea tahun 1950-1953.

Pernyataan Leader BTS, RM ini yang kemudian membuat kontroversi.

Kami akan selalu mengingat sejarah rasa sakit yang dialami oleh kedua negara kita bersama-sama dan pengorbanan banyak pria dan wanita,” katanya.

Sebagai informasi, penghargaan ini biasa diberikan ke warga negara AS dan Korsel. Yang menerima dianggap memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan kedua negara. Van Fleet Award memang merupakan salah satu penghargaan paling bergengsi dalam hubungan AS dengan Korea Selatan.

Artinya antara :

  1. BTS membawa “pesan politik” untuk menegaskan hubungan politik-ekonomi Korea Selatan akan memihak Amerika. Situasi geopolitik saat itu adalah ancaman perang di Laut China Selatan. Korea Utara dan Cina di satu sisi; AS, Korea Selatan dan sekutu mereka di sisi lain. 
  2. BTS / Bighit berada di partai yang sama dengan Moon Jae-In.

Bagaimana menurut kalian?

Sumber1

Sumber2

Sumber3 – Celebrity & political affiliations

9.PERKAWINAN POLITIK BTS x BIGHIT x MOON JAE-IN

Mulai dari

-BTS mendapat “Order of Merit” pada 24 Oktober 2018,

-BTS menerima “Passport Diplomatic” 17 Sept 2021,

BTS ditunjuk langsung oleh Moon Jae-In sebagai UTUSAN KHUSUS ke UN (21 Sept 2021),

-Politisi konggres mewakili suara Hybe agar meniadakan wamil untuk BTS

-Politisi Anggota Konggres Demokrat masih berusaha menegosiasikan wamil BTS

Hal ini menunjukkan selalu ada tidak hanya campur tangan pemerintah. tapi juga Presiden Moon Jae-In sendiri (Penulis akan menyingkatnya MJI).

Dengan kata lain, ketenaran BTS dibentuk. Pengaruh BTS dibentuk. Citra BTS dibentuk sedemikian rupa dan dijaga agar tampak organik. BTS bisa meledak seperti sekarang karena Moon Jae-In naik menjadi presiden.

Pemerintahan Moon Jae-In terlibat korupsi kronis sejak awal pemerintahan. Anggota partai MJI juga berada dalam skandal properti dan dituduh membeli rumah atas nama kerabatnya. Anggota partai lainnya juga dituduh menyembunyikan kepemilikan beberapa properti, meskipun ada instruksi untuk menjualnya karena kekurangan rumah yang parah di Seoul.

Yoon Suk-yeol, presiden terpilih di Pemilu Korsel tahun 2022, sebelumnya menjadi jaksa penuntut utama yang menyelidiki skandal korupsi yang melibatkan mantan presiden terguling Park Geun-hye. YSY menjadi bertentangan dengan pemerintah liberal ketika ia meluncurkan penyelidikan ke Cho Kuk, salah satu pembantu terdekat MJI. YSY bersumpah akan mengusut korupsi dan penyimpangan dibawah pemerintahan MJI.

Satu hal yang harus kalian ingat dalam korupsi, bahwa korupsi selalu bersifat sistemik. Atasan pelaku, keluarga pelaku, bahkan mungkin temannya di lintas industri pasti ikut serta. Bisa tebak sendiri artinya kan?

Apa itu reputation washing? Adalah aktifitas suatu public figure yang terkenal untuk memoles citra di suatu negara demi menutup reputasi yang buruk negara tersebut dalam ranah diplomasi bilateral atau internasional. Artinya seperti BTS. Atau menurut Maginta seperti Filantrokapitalisme WorldBank: menolong dunia di malam hari, menyebabkan masalah yang dia tolong di siang hari.

The scam of reputation-washing: How corporations successfully cover up their big-money messes with small-dollar philanthropic giving

Sumber1

Sumber2

F.A.Q : BAGAIMANA PEMERINTAH KORSEL MENJAGA CITRA BTS & HYNE?

Saturasi budaya kpop di luar negeri (hallyu) memang disengaja dan merupakan bagian dari politik luar negeri korea. Ini sudah ada dan pemerintah Korea sendiri mengakuinya. Jangan bertindak seolah BTS menjadi besar dengan sendirinya ketika mereka baru menemukan kesuksesan setelah dukungan industri besar (Cj, Hyundai, dll) dan pemerintah. BTS jelas bukan seniman akar rumput.

Pemerintah Korsel tahu kesadaran masyarakat tentang ini. Sejak 2017 BTS telah menjadi wajah dari rezim Moon Jae-In yang terduga korupsi bahkan sebelum menjabat. Bagaimana Rezim MJI menjaga citra BTS agar tetap “tampak” organik? Dengan konten/acara.

BTS adalah idol KPOP. Mereka dibesarkan, citra mereka diatur secara ketat sama seperti idol lain. Dengan melihat secara bic picture dan bukti sebanyak ini, anda delusi jika anda berpikir BTS dan Bighit tidak mendapat dorongan yang masif dari industri dan pemerintah Korsel.

Hybe/Bighit juga mendapatkan privilege ini. Pemilik Weverse adalah Hybe. Google Form dibuat didalam BigHit. Tapi yang dihukum “hanya” Source Music?

Jika melihat 2019-2020, Weverse telah berkali-kali membocorkan personal info customer, terutama ARMY. Salah Source Music juga kah?

https://kbizoom.com/source-music-is-fined-3-million-won-by-pipc-fans-are-satisfied/

Artinya personal Info yang bocor itu kesalahan platform. Lalu Source Music rentan menjadi kambing hitam. Bayangkan saja bagaimana artisnya akan melawan jika penegak hukum Korsel bahkan melindungi perusahaan?

.

F.A.Q : APA BEDANYA DENGAN IDOL GRUP LAIN?

Langkah BTS ini tentu agak berbeda dengan bagaimana selebriti Korea lain tampil dalam beberapa hal. Misal, EXO datang ke acara pertemuan Donal trump & Presiden Moon, tidak jelas tujuan kebijakan apa yang dilakukan acara tersebut selain menarik lebih banyak fans dan masyarakat agar membawa engagement. EXO tidak berusaha mencuci reputasi Trump.

Salah satu langkah yang cukup jelas terkait dengan kebijakan perdamaian dan denuklirisasi—adalah ketika pemerintah Korea Selatan mengatur agar penyanyi yang dikenal secara internasional seperti Red Velvet dan Baek Ji-young untuk tampil di sebuah konser di Pyongyang untuk menghormati KTT pertama pada 2018 antara Moon dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un. Red Velvet dkk tidak berusaha menutupi citra Korea Utara. Murni misi perdamaian antar negara dan mereka datang sebagai entertainer.

Politik sensitif BTS ini adalah memihak satu sisi. Sedangkan yang ditunjukkan EXO, Red Velvet, dan grup lain adalah selain public diplomacy dan perdagangan antar negara, juga partner pemerintah dalam pembangunan negara dan industri dalam negeri. MJI menjadikan BTS sebagai alat politik, dan BTS menyetujuinya demi ketenaran.

.

4. SOCIAL MOVEMENT

Dalam masyarakat saat ini, adalah hal yang umum bahwa organisasi/perusahaan secara sadar melanggar norma bisnis yang sudah mapan untuk tetap apolitis. Sebagai gantinya perusahaan ikut serta dalam gerakan keadilan politik atau sosial. Hal ini sering dilihat sebagai bagian dari strategi untuk membangun kampanye pemasaran yang sukses untuk menarik konsumen. Dalam beberapa tahun terakhir, membuat pernyataan politik telah menjadi pusat dalam beberapa kampanye pemasaran paling terkenal, dan organisasi telah menyadari peran yang dapat dimainkan oleh gerakan sosial dalam pemasaran sosial mereka untuk mendapatkan perhatian yang dibutuhkan (Hastings and Domegan, 2013).

Gerakan Sosial (bahasa Inggris:social movement) adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan nilai sebuah perubahan sosial.

Studi menunjukkan bahwa lebih dari lima puluh persen konsumen akan memboikot atau menyesuaikan sikap negatif terhadap suatu merek karena bagaimana merek memposisikan dirinya pada masalah yang sedang berlangsung. Hal yang sama berlaku ketika merek tetap diam pada masalah yang kita, sebagai konsumen, merasa bahwa merek harus terikat secara moral untuk ditangani (Edelman, 2019).

Dalam beberapa tahun terakhir kita telah melihat banyak merek multi-miliar dolar mengadaptasi strategi pemasaran mereka untuk fenomena ini. Pepsi menjadi sangat dikritik karena mengkooptasi gerakan #BlackLivesMatter demi keuntungan. Iklan yang dibintangi bintang TV reality terkenal, model Kendall Jenner itu dengan cepat menjadi viral dan Pepsi menghadapi banyak reaksi protes, yang memaksa Pepsi untuk menarik iklan tersebut dan membuat pernyataan publik untuk meminta maaf (Nytimes.com, 2019).

Kasus terkenal lainnya adalah ketika Nike membuat kampanye mereka untuk merayakan ulang tahun ke 30 dari slogan ikonik dalam sejarah brand olahraga dan mengumumkan bahwa Colin Kaepernick adalah salah satu atlet yang menjadi bagian dari kampanye baru mereka. Iklan tersebut menunjukkan tampilan close-up Kaepernick dengan slogan Nike yang diperbarui, “Believe in something. Even if it means sacrificing everything. Just Do It.”

Pengorbanan yang dimaksud adalah referensi ke protes berlutut Kaepernick terhadap kebrutalan polisi sebelum pertandingan NFL. (Kaepernick saat ini menggugat NFL karena diduga berkolusi untuk menjauhkannya dari liga karena protes.) Meskipun Kaepernick dan pemain NFL lainnya yang telah berlutut selama lagu kebangsaan sebelum pertandingan NFL menyatakan bahwa protes mereka adalah tentang kebrutalan polisi yang mengakibatkan kematian orang kulit hitam Amerika yang tidak bersenjata, itu tidak menghentikan kritik mereka.

Kampanye ini menjadi viral dan juga memulai boikot, tetapi boikot tersebut memberikan efek yang diinginkan bagi Nike yang menghasilkan kemenangan besar dengan penggunaan Kaepernick dengan peningkatan brand value olahraga sebesar 6 miliar dolar (Abad-Santos, 2019).

Tahun 2015, SM meluncurkan “SMile For U” bersama UNICEF. Tidak hanya sekali, tapi SMxUNICEF nyaris tiap tahun.

F.A.Q : BAGAIMANA DENGAN BTS??

Ini yang unik. Hunter Schwarz men-tweet link ‘ BTS Are on the Front Line of South Korea’s Generational Warfare ‘ dengan caption “I had no idea how political BTS got in their music” dan balasannya penuh dengan pujian dan link youtube untuk mengerti lirik, penampilan, dan artikel yang berusaha untuk mem-validasi BTS sebagai pemimpin revolusioner.

Sangat banyak juga ARMY yang berusaha menceritakan ulang bagaimana BTS diblacklist pemerintah karena Spring Day. Padahal “Spring Day” dirilis pada 2017. Pemerintah konservatif yang bertanggung jawab menjalankan blacklist tersebut sedang dalam proses impeachment yang dimulai pada 2016 . Lebih jauh lagi, ketika daftar hitam itu benar-benar terungkap, hanya satu grup Kpop — 24K — yang disebut.

Lucunya, sepertinya tidak ada yang tertarik untuk menghubungkan kata-kata Leader BTS Namjoon sendiri “BTS doesn’t talk about big issues like war or peace, or global poverty or starvation or things like that,” akan tetapi memilih untuk menekankan bahwa pesan grup adalah “loving yourself, as well as to look at the small things” (Hollywood Reporter).

Aktivisme bukanlah seperti celana dalam yang bisa dipasang dan lepas kapan pun Anda mau. Anda tidak dapat tampil untuk rezim yang bertanggung jawab atas penindasan terburuk terhadap perempuan di dunia modern dan pembunuhan, lalu kemudian mengaku peduli untuk mengakhiri kekerasan. Kenyataannya adalah jika BTS ingin dianggap sadar sosial dan politik, mereka perlu mengambil sikap yang konsisten, tetapi Namjoon sendiri mengatakan dia tidak tertarik melakukan itu. “BTS tidak membicarakan masalah besar seperti perang atau perdamaian”. Jadi dengan kalimat itu, faktanya adalah mereka apolitis. Mereka sebenarnya tidak peduli dengan pesan asli. Itu semua hanya Lip Service, dan moral mereka hanya tampil untuk penawar tertinggi. Moral terendah.

Bighit dan BTS bekerja sama dengan UNICEF tahun 2017. Meskipun seolah meniru SM yang sudah bekerjasama dengan UNICEF sejak tahun 2015. Tujuan BTS dengan Love Yourself bukan kampanye, tapi pengaruh ke audience yang lebih luas, serta profit. Yaitu diarahkan untuk membeli merch, aksesoris, dll. Ini penelitiannya.

BTS & HYBE : INTEGRITAS DI TITIK NOL

Pada Juli 2019, BigHit mengakuisisi Source Music. Akuisisi artinya mengambil alih kepemilikan, Source Music menjadi anak perusahaan. Dalam akuisisi, tidak bisa “independent” dan “anak perusahaan” berada dalam satu kalimat.

Artikel dari Tenasia mengumumkan bawa Gfriend tidak memperpajang kontrak dan menginginkan karir individu. Tepat sehari setelah trending tagar #HybeSpeakup selama 3 hari (dari 28 Juni-30 Juli), dimana nyaris seluruh fandom membantu fans Gfriend dalam trending tersebut, artikel dari Variety bahwa Bah Si-Hyuk “turun” dari jabatannya CEO, menjadi Chairman keluar. Hal ini tentu memberikan kita tiga perspektif untuk menilai semuanya dengan lebih objektif.

Pertama, Chairman, adalah pimpinan anggota dewan direksi, memiliki pangkat lebih tinggi dari presiden perusahaan / CEO karena Chairman dapat memiliki kuasa dalam mengangkat dan memberhentikan presiden / CEO, dan tidak sebaliknya. Setiap keputusan yang ingin diambil CEO, harus dibicarakan dulu dengan Chairman apakah sejalan dengan aggota direksi lain atau tidak. Karena perusahaan besar selalu rumit karena memiliki lebih dari 1 pemilik,

Sumber Zippia

Sumber VirtualNoExecs

Kedua, Bighit/Hybe memainkan media. Ada banyak contoh bagaimana korporasi mengontrol media demi kepentingannya. Artikel dari Tenasia membuktikan bahwa Hybe tahu akan banyak fans yang tidak terima dengan keputusan yang mendadak, maka ia mengeluarkan artikel hoax tersebut sebagai strategi untuk mengontol opini dan pikiran publik. Member Gfriend sendiri telah mengkonfirmasi bahwa mereka diputus secara mendadak dalam acara “Scan Viviz” dan ucapan leader Gfriend,Sowon. Artikel dari Variety adalah juga sebagai strategi mengontrol tagar kemarahan publik. Dari posisi CEO ke Chairman itu bukan “turun” posisi, melainkan justru naik posisi. Terlebih ia memiliki 34% saham (1 Juli 2021).

Variety sejak dulu dengan Scooter emang bestie

Perspektif ketiga, disini terletak bagaimana “true face” alias wajah asli Bang PD dan jajaran eksekutifnya dalam menghadapi masalah. Source Music adalah anak perusahaannya, yang artinya dibawah kendalinya juga. Politisi atau selebriti bisa tampak begitu baik di media, tapi bisa jadi sangat berbeda dan terbalik dikenyataan. Bang Si-Hyuk bisa tampak begitu baik ketika menanggapi ucapan B-Free yang menyingung BTS dulu, tapi sekarang mungkin mulai menunjukkan wajah aslinya, yang hanya peduli dalam membangun kerajaan bisnisnya.

Mengapa perusahaan besar takut dengan tagar twitter?

The Role and Influence of Mass Media

.

5. Buzzer / Influencer bayaran Bighit/Hybe untuk penggiringan opini, how to detect?

Istilah buzzer atau pendengung sebenarnya sejak lama telah ada. Ketika media sosial mulai masif dimanfaatkan sebagai channel komunikasi pemasaran. Baik untuk komunikasi pemasaran sebuah produk, jasa, sampai komunikasi “pemasaran” di bidang politik. Di Indonesia, buzzer digunakan untuk politik pada tahun 2012.

Buzzer bisa dibilang adalah sekelompok orang yang menyuarakan suatu pendapat secara langsung, dengan menggunakan identitas pribadi atau identitas yang disembunyikan, untuk menyatakan suatu kepentingan di dalam media sosial secara strategi.

Menurut Suara.com, ada tiga istilah yang biasa digunakan dalam pemasaran era sosial media.

  1. Buzzer: bergerak secara kolektif pada satu isu spesifik. Biasanya memiliki agenda yang jelas serta skenario yang sudah diatur sedemikian rupa agar dapat mempengaruhi pendapat masyarakat. Umumnya punya banyak akun dengan follower kurang dari seribu.
  2. Key Opinion Leader: biasanya merupakan sosok-sosok yang sudah cukup dikenal publik, dengan pengikut dan engagement yang besar. KOL berfungsi sebagai pemicu munculnya isu dan pembahasan. KOL tidak selalu bekerja dalam satu organisasi terstruktur, mereka bisa juga bergerak secara mandiri.
  3. Influencer: merupakan seorang atau akun yang memiliki cara khas dalam mengamplifikasi pesan ke publiknya. Dikenal karena memiliki keahlian di bidang spesifik, sehingga dijadikan acuan oleh pengikutnya.

Mereka semua memiliki kemampuan menyampaikan pesan yang menarik perhatian atau membangun percakapan, lalu bergerak dengan motif tertentu.

Buzzer / paid influencer profesional biasanya terorganisir. Mereka merancang isu tertentu yang harus didengungkan ke publik lewat saluran media sosial. Mereka sudah memetakan siapa-siapa saja orang / akun dengan massive follower yang bisa menjadi perantara pesan itu agar engagement bisa luas organik dan viral. Selain itu buzzer juga mengatur lalu-lintas penyebaran pesan tersebut. Melalui tools-tools atau bot yang mereka punya. Mereka juga pastinya menguasai berbagai platform agar bisa menguasai sudut maya terjauh.

Influencer/buzzer anonim dengan follower puluhan ribu, atau buzzer recehan mampu membuat dan menggiring opini (entah itu framing, atau misinformasi) dibungkus konten menarik, canggih dan tampak organik dan didorong oleh orang-orang dengan kemampuan NLP serta pemahaman yang tajam tentang cara memanipulasi arus informasi. Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) pada tahun 2017 pernah melakukan riset soal sejarah buzzer secara keseluruhan di Indonesia.

Selanjutnya saya tidak akan membahasnya panjang lebar. Kalian bisa membacanya sendiri disini :

(PDF) Di Balik Fenomena Buzzer: Memahami Lanskap Industri dan Pengaruh Buzzer di Indonesia | Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG), Klara Esti, and Rinaldi Camil – Academia.edu

Jika kalian search di google memakai keyword “buzzer”, maka kalian akan mendapatkan sejumlah definisi dari berbagai situs web. Tapi kenapa tidak ada contohnya?

W.I.R.E.D pernah membahasnya bahwa mengukur skala dan tingkat keterlibatan buzzer/indluencer bayaran di Sosial Media itu sulit, karena beberapa alasan:

(1) Lemahnya penegakan aturan yang mencatat influencer bayaran saat mereka memposting iklan. 

(2) Pengungkapan “kemitraan berbayar” itu sendiri tidak jelas—mengklik link laporan keuangan dan semacamnya akan membawa kita ke halaman perusahaan dan melihat alokasi-alokasi dana tersebut, tetapi tidak menampilkan kemana saja dan untuk siapa saja pos anggaran itu ditujukan. Penggunaan buzzer/influencer ini dinegara manapun belum ada regulasinya meskipun efek yang ditimbulkan sudah terasa dimana-mana dan berdampak pada turunnya moral akibat normalisasi perilaku buruk.

Lebih jauh, dalam study Architects of Networked Disinformation: Behind the Scenes of Troll Accounts and Fake News Production in the Philippines sepanjang 82 halaman digambarkan dengan jelas bagaimana industri Iklan dan PR menormalisasi dan mendorong pekerjaan manipulasi opini publik.

Menurut penelitian yang didanai British Council tersebut;

1) Ahli strategi periklanan, Media dan PR adalah arsitek utama disinformasi. Mereka menganggap proyek disinformasi (politik dan brand) sebagai pekerjaan sampingan yang tidak perlu diungkapkan dan belum ada regulasinya. Orang-orang yang sangat ahli dan profesional dan terhierarki secara rapi ini bisa membuat berbagai konten penggiringan opini di sosial media dengan artikel dan situs dot com yang seolah resmi. Padahal kalian sendiri bisa membuat situs dot com cukup bermodal 400rb rupiah.

2) Kepala arsitek disinformasi mengumpulkan dan mengarahkan influencer selebriti, influencer digital anonim, atau fake account level komunitas berdasarkan tujuan klien mereka. Para pekerja anonim digital ini kemudian mengambil strategi yang sudah diujicoba dan di trial-error ke sosial media dengan mempersenjatai kefasihan mereka dalam bahasa yang manipulatif (NLP), populer dan storytelling yang mudah dimengerti untuk mengaktifkan emosi kemarahan dan kebencian publik.

3) Sulitnya bidang ini diregulasi karena nyaris mustahil menentukan apakah akun anonim tersebut murni organik (grass root) atau memang akun anonim bayaran. Bagaimana jika akun itu adalah akun ke 100 dari akun influencer terkenal yang selain digunakan untuk bot, juga sebagai kontra akunnya sendiri agar mendapat simpati dari orang yang punya pendapat berbeda?

F.A.Q : APAKAH BIGHIT PUNYA BUZZER BAYARAN?

Seperti yang telah diutarakan. Tidak ada bukti tertulis ada influencer, buzzer, influencer digital anonym. Tapi kalian bisa melihat polanya. Biasanya kampanye/storytelling mereka sangat rapi. Social Media Conflict Management akan terstruktur dan teroganisir. Bighit/Hybe bisa saja membayar Influencer Selebriti (Bellapoarch, dll), Jurnalis-Influencer freelance (Brian Patrick Byrne), puluhan influencer digital anonim yang kreatif, dan sisanya adalah buzzer gratisan alias fandom in fanaticism (saya jelaskan di Chapter-3).

Brian Patrick meneruskan narasi/storytelling “BTS against the World” yang sudah dijalankan ARMY & Influencer sejak 2017. Dengan situs dot com, masyarakat dan fandom yang membebek akan lebih percaya bukan?

Brian insyaf guys

Para arsitek disinformasi ini cenderung menggiring wacana baik normalisasi perilaku yang salah maupun fiksionalisasi (fictionalization). Apa itu fiksionalisasi, adalah kegiatan menulis tentang peristiwa atau karakter nyata, tetapi menambahkan detail imajiner dan mengubah beberapa fakta.

Itulah kenapa ada sangat banyak disinformasi dari fandom ARMY yang memang sengaja disebarluaskan untuk mendukung narasi/storytelling BTS/BIGHIT sekaligus merusak nalar wajar. Kenapa sampai merusak nalar? Hal ini akan aya jelaskan di Cahpter 3.

Keuntungan dari penggunaan paid buzzer/influencer adalah strategi Word-To-Mouth. Adalah User Generated Content atau UGC merupakan salah satu strategi marketing mulut ke mulut. Konten merupakan salah satu cara seseorang berkomunikasi dengan orang lainnya. Ketika orang membuat konten dan dilihat oleh orang lain, cara ini sudah termasuk dalam strategi dari mulut ke mulut.

Yang kedua, interaksi sesama akun kecil dan “orang biasa” lebih terpercaya. Seperti kalian lebih mencari review produk / testimoni ketimbang berita produk itu sendiri. Kalian akan lebih percaya sesama fandom ketimbang pertimbangan nalar sendiri (groupthink). Ditambah bagaimana sejak dulu marketing dan praktisi brand yang sejak dulu berusaha memeodifikasi perilaku melalui iklan. Untuk yang terakhir ini, tunggu di Chapter 3 ya karena jika dijelaskan disini akan semakin panjang.

.

FITNAH ANONYM INFLUENCER KEPADA SM

BTS vs The World, BTS vs Industry, Hybe saving Kpop Companies, dan berbagai narasi aneh dari Fandom ARMY akan penulis kupas tuntas di Chapter 3 karena memang punya kaitan.

TMIKpop sebagai salah satu influencer Digital Anonim. Preferensi dia sudah bias sejak 2019. Ada bumbu “penggiringan opini” ditweetnya (lihat yang digaris bawah). Investigasi Pajak SM Ent itu sudah selesai sejak lama. Apakah setelah ini kalian masih menjadikan dia sumber?

Di hari yang sama, akun @im_jammed memberikan tweet yang lebih terpercaya dan lebih masuk akal. Penulis bukan Big 3 stan. Tapi melihat pertempuran narasi ini, tentu kita bisa menduga mana yang akan ARMY percaya. Kalian mungkin bertanya, “kok bisa gitu ya?”. Selanjutnya akan saya bahas di Chapter 3.

.

FITNAH ARMY KEPADA SUPERM

Influencer bayaran telah menyusup ke ruang jurnalisme yang sebenarnya. Melalui opini penggemar atau selebriti yang bias dipublikasikan di bawah outlet resmi seperti Rolling Stone atau WallStreet Journal, penggemar lain kemudian menggunakan ini untuk mengklaim itu sebagai standar pelaporan. Para “jurnalis” bayaran secara teratur menggunakan platform mereka untuk memfitnah kelompok lain. Contoh lain adalah Ikran Dahir dan Ellie Bate, keduanya akun ARMY di twitter, menggunakan platform mereka di Buzzfeed untuk menuduh SuperM secara palsu meningkatkan penjualan album ke chart di Billboard.

Apa yang jurnalis ini dapat untuk menebarkan berita palsu dan penuh kebencian?

Billboard merilis pernyataan resmi dengan statistik Nielsen, membuktikan posisi grafik Super M sebagai sah , tidak ada dari dua penulis tersebut yang mengeluarkan permintaan maaf. Dan artikel tersebut masih ada di Buzzfeed — dengan tiga koreksi/update.

PENGGIRINGAN OPINI DAN KEBENCIAN KEPADA BIGBANG

Sumbernya dari sini.

Pada 12 Maret, Pauline DeLeon menulis untuk HypeBae yang seharusnya merupakan terjemahan dari postingan situs Korea tentang BIGBANG yang ‘renewal’ kontrak rekaman mereka dengan label YG. Dalam artikel aslinya, DeLeon menulis “penggemar tampaknya tidak menerima berita [perpanjangan kontrak] dengan baik”, kemudian menambahkan tuduhan palsu terhadap anggota BigBang, Daesung, yang telah dibebaskan dan namanya dibersihkan secara hukum, dan mengutip ‘satu pengguna media sosial’ (khas propaganda, “netizen meributkan politisi blablabla”), dan memanggil Grup Bigbang sebagai kelompok mantan narapidana yang unik.

DeLeon kemungkinan merujuk pada tuduhan kriminal mantan rekan satu bandnya Seungri tentang prostitusi sebagai “mishaps” (kecelakaan/masalah), sebelum diakhiri dengan tautan ke video musik terbaru BTS.

Pondasi ARMY sejak dulu dibumbui penggiringan opini dengan hasil kebencian. Dan sayangnya “bumbu” ini sedikit demi sedikit menjadi dominan. BTS melawan dunia, BTS melawan industri, BTS melawan Big3, BTS melawan semua fandom, dll kalimat-kalimat ini akan banyak ditemukan di fandom ARMY. Ucapan-ucapan yang mirip “delusi” ini sebenarnya adalah satu pecahan dari gambaran besar storytelling dan branding Bighit untuk mengeksploitasi emosi dan mental fandomnya menuju fanatisme dan lebih rela berkorban demi BTS. Storytelling dan branding macam apa yang membutuhkan kebencian sebagai bahan bakar?

Sekian dari saya. Sampai jumpa di Chapter 3.

.

.

BONUS SUB-CHAPTER

SEKILAS TENTANG MNC (MULTINATIONAL CORPORATION)

Siapa yang memegang kekuasaan dalam politik internasional? 

Jika jawabannya negara terbesar ekonominya dalam sistem global, mungkin kurang tepat. Pernahkan terpikir jika MNC juga punya pengaruh yang setara dengan negara?

MNC sederhananya adalah perusahaan yang beroperasi di banyak negara. Pada awalnya MNC mengawali aktivitasnya dari negara asalnya (home country). Yang kemudian melakukan ekspansi pasar hingga keluar negeri dan mendapat dukungan modal dari pemerintah asal. MNC melebarkan sayapnya, meletakkan cabang-cabangnya terutama di negara-negara berkembang sebagai target marketnya (negara tujuan disebut host country). 

Keterlibatan negara asal (home country) dalam jalannya aktvitas perusahaan multinasionalnya adalah contoh betapa negara sangat tergantung pada ekonomi, lalu menciptakan MNC/Chaebol sebagai perpanjangan tangannya di LN. Itulah kenapa MNC disebut juga sebagai Non-State Actor. Hal ini tercermin manakala negara asal berupaya untuk mempengaruhi kinerja perusahaan, cara operasi dan manajemen perusahaan, serta lingkungan pasar, yakni ketika perusahaan tersebut akan bersaing nantinya (dinegara asal maupun penerima). Dengan kata lain, MNC seringkali memerlukan peraturan atau keterlibatan pemerintah dalam mengatasi persaingan dalam negeri dan luar negeri.

Contoh persaingan ini adalah : Project SM Ent “Changwon City” yang terus dihambat. Walikota Changwon sebelumnya, Ahn Sang-soo menyetujui adanya SMTown Changwon berasal dari partai sayap tengah jadi tidak keberpihakan yang berarti. Walkot Changwon yang sekarang Mayor Heo Seong-moo pernah komunikasi dan dekat dengan MJI, dia kandidat dari partai demokrat yang punya kecenderungan sama dengan MJI. Heo Seong-moo memakai alibi administratif yang sangat tidak jelas dan ambigu.

Dengan koneksi itu, proyek Changwon City SM dijegal Hybe. Hybe dilindungi secara politik dalam persaingan bisnisnya.

Sumber : Foreign Policy Analysis

Di negara penerima, aktor non-market -seperti pemerintah- akan mendukung proses ekspansi dan transaksi pasar yang dilakukan oleh perusahaan melalui kekuatan (power) yang dimiliki, salah satunya seperti pemberian sanksi non ekonomi lain bagi negara penerima yang dirasa menghambat jalannya aktivitas bisnis dari perusahaan asal negara tersebut.

Menurut Foreign Policy Analysis, MNC membutuhkan negara asal untuk melindungi aktivitas bisnis dari MNC dinegara penerima, sekaligus menekan pemerintah negara penerima agar mempermudah aktivitas bisnis dari MNC tersebut di negaranya. Hal ini dilakukan MNC melalui aktivitas lobbying dan negosiasi dengan pemerintah agar pemerintah dapat menghasilkan kebijakan dan rencana-rencana strategis yang pro MNC atau sesuai dengan kepentingan bisnis dari MNC tersebut. Proses lobbying dan interaksi yang dilakukan oleh MNC dan negara asalnya pada akhirnya berdampak pula pada proses pembuatan kebijakan luar negeri dari negara asal. 

EFEKNYA?

Seringkali, investasi yang impact awalnya bagus untuk negara tujuan, Semakin lama akan menjadi timpang. Ambil contoh ini adalah perbandingan MNC sales dengan GDP dan pengeluaran sebuah negara.

Dari “The Political Power of Global Corporations” 2013

Berkat bantuan teknologi yang lebih maju, dan modal yang banyak dari negara asalnya, MNC menciptakan ketergantungan yang tak terelakkan terhadap negara berkembang yang dijadikan target pasarnya. Seperti lapangan pekerjaan, transfer teknologi, akses pasar, dll.

Dalam buku “Rethinking Public Relations: PR Propaganda and Democracy” menyebut MNC / Chaebol / konglomerat ini bisa setara dengan pemerintahan negara berkembang.

A starting point for the negative-effects thesis is an anti-capitalist critique that PR has traditionally helped financial capitalist and big-business interests maintain their dominant position in the political economy of liberal democracies. Statements of this position can be found in Carey (1995), Ewen (1996), Marchand (1998), Miller and Dinan (2000), Olasky (1987). The basic proposition in the negative-effects thesis is that capitalists are an elite (if not a class) who control the accumulation and distribution of funds needed by business for profitable growth, and that this control makes them as powerful as, if not more powerful than, elected governments, and certainly more powerful than other interests (if not classes) in liberal democracy.

…………

In operating their control, the capitalist elite has access to professionals such as investment managers,5 deal makers, accountants, lawyers, marketeers, and public relations agencies. Hill and Knowlton is one such, and Miller, K. in her history of it (1999a) argues that it could justifiably claim to be the most important public relations agency ever (p. 1) for it has represented some of the largest businesses in basic sectors (steel, tobacco, aviation) of the largest economy in the world. Her title of The Voice of Business is therefore well chosen. The agency was well attuned for the ideological defence of business in 1933 for its founder, John Hill, was ‘a conservative ideologue’ (ibid.) who believed that unions and government had no role in business. However, when clients’ needs required government regulation or involvement, the agency was able to justify interfering in markets, as it did in favour of dairy farmers and aircraft manufacturers.

Tapi dari banyaknya hubungan antara MNC, negara asal dan negara tujuan ini, tentu semua memiliki kasus yang berbeda. Kita ambil kesamaan hubungan Pemerintah US dan Google/FB.

AS terlibat dalam aktivitas bisnis salah satu giant technology company asal negaranya yakni Google yang beroperasi di wilayah Eropa. Google pertama kali masuk ke wilayah Eropa pada tahun 2004 yang ditandai dengan dibukanya kantor internasional Google cabang Eropa di kota Dublin, Irlandia. Saat ini, Google telah memiliki dua data center yang terletak di Eropa serta 20 kantor cabang yang tersebar diberbagai negara Eropa. Tidak dapat dipungkiri bahwa Eropa menjadi salah satu wilayah strategis bagi Google, mengingat kemudahan akses dan peraturan yang ada di Eropa -seperti rendahnya penarikan biaya pajak bagi perusahaan asing- menyebabkan Google dapat berkembang pesat di wilayah tersebut. Salah satu keberhasilan tersebut ditandai dengan besarnya perolehan pangsa pasar Google di Eropa yang mencapai 92 persen [KOMPAS]. Padahal dinegaranya sendiri, Google hanya menguasai sebesar 65 persen saja.

Eropa pun tidak tinggal diam. Hasilnya, Uni Eropa (The European Union’s Competition Commission) secara resmi mendakwa Google telah menyalahgunakan posisi dominan mereka di pasar Eropa setelah Komisi Persaingan Uni Eropa melancarkan investigasi selama lima tahun sejak tahun 2010.

Pada bulan April 2014, dibawah pimpinan Margrethe Vestager selaku Komisaris Komisi Persaingan Uni Eropa, mereka mejatuhkan dan melayangkan sejumlah dakwaan kepada Google. Adapun sejumlah dakwaan tersebut ialah sebagai berikut:

(1) Besarnya dominasi mesin pencari Google dan operation system (OS) Android di pangsa pasar Eropa yakni sebesar 90 persen, yang mana hal ini dianggap dapat ‘membunuh’ bisnis sejenis lainnya di wilayah Eropa (BBC, 2014),

(2) Cara Google Shopping (salah satu fitur Google) dalam menampilkan hasil pencarian, yang mana fitur ini seringkali mencurangi konsumen dan pesaingnya dengan mendistorsi hasil pencarian Internet yang hanya menguntungkan layanan perbelanjaan milik Google

Berkat Google pada android, Google Shopping dan Google Adsense, Komisi Eropa menjatuhi denda total €8.2 billion. Tapi yang perlu kita sorot adalah bagaimana semua ini mempunyai pola yang sama.

Obama secara tegas menyatakan bahwa kebijakan antitrust dan proteksionisme Uni Eropa dianggap tidak rasional karena kebijakan tersebut hanya menyasar pada perusahaan-perusahaan IT asal AS saja. [sumber]

Hal protektif yang ditunjukkan tersebut tentu saja tidak mengherankan. Pemerintah AS sendiri tercatat pernah mendanai Google sebesar $100 juta USD dan $4,5 juta USD ketika google belum stabil (Federally Supported Innovations). Saat itu pemerintah AS beralasan bahwa adanya investasi pada perusahaan yang bergerak bidang basic research dan sains, maka perusahan-perusahaan milik Amerika Serikat tersebut mampu menjadi wealth generators atau ‘mesin pencetak kekayaan’ bagi Amerika Serikat [cnsnews]. Ketika pemerintah AS telah memberikan dana bantuan yang cukup banyak kepada Google, maka secara tidak langsung akan tercipta hubungan timbal balik antara negara dengan perusahaan MNC-nya.

Google dan pemerintah AS telah menciptakan hubungan kemitraan yang luar biasa, dimana Google menjadi salah satu perusahaan yang menyediakan tenaga kerja, berbagai macam teknologi, keahlian, hingga saran dan jasa yang mendukung proyek-proyek vital milik negara. Salah satunya terlihat ketika Google mendirikan Defense Innovation Advisory Board yakni suatu dewan penasehat bagi Departemen Pertahanan AS yang memberikan masukan dan saran terkait penerapan teknologi pada sektor militer.

Tidak sebatas itu, hubungan ini juga merambah ke sektor politik. Pada tahun 2008, Google diduga telah membantu dan memberikan sejumlah dana kepada ‘partai sayap kiri’ yang mana partai ini memiliki kedekatan khusus dengan pemerintahan Barack Obama, mengingat partai ini menjadi sumber kontribusi terbesar ketiga selama masa kampanye Presiden Obama berlangsung.

Selama tahun-tahun ini, Google, FB, dan berbagai social media giants dimedia sering kali drama melawan pemerintah US bahwa mereka marah pada spionase NSA. Padahal Google dan Facebook memang mengizinkan akses NSA ke data dan sedang dalam pembicaraan untuk mendirikan ‘spy’s room’ meskipun Zuckerberg dan Page denial atas proyek PRISM. Hal ini memang sudah dirancang Obama sejak awal investasi pada perusahaan teknologi. Benar bahwa Google, FB, Yahoo, Microsoft, AOL, dll memang diharapkan untuk menyediakan lahan ekonomi di rumah mereka, US, tapi tentu hal ini ada harganya.

Dalam kasus BTS/BIGHIT, tentu mereka punya koneksi politik juga di Amerika, yang mungkin sudah terjalin sejak 2018 (James A. Van Fleet Award) dan semakin mendalam di 2021 ini. Pemerintah Amerika (sebagai negara penerima) bisa saja menawarkan bantuan mediaplay lokal, atau insentif seperti pajak yang lebih rendah dan dukungan administratif lain. Mereka juga mungkin meringankan peraturan tenaga kerja dan lingkungan. Ini yang penulis lihat di konser BTS di Las Vegas.

Mungkin benar Hybe memberikan berbagai efek ekonomi, karena memang Bighit dibiayai, diarahkan, dan diberikan bantuan tidak hanya dana, tapi juga politik. Justru dengan bantuan pemerintah Korsel, efek ekonomi harus ada. Tapi jelas hal ini ada harganya.

Perkawinan BTS/BIGHIT dengan politik Korsel-Amerika, membuat brand positioning mereka semakin lengkap. Di kancah politik; BTS dijual sebagai “reputation washer” (dibantu dengan ARMY -fandom in cult- yang akan membela idolnya hingga titik darah dan emosi terakhir). Dan di kancah entertainment dan bisnis; mereka dijual sebagai “Commercial Figures” (bukan artist).

.

.

PENCARIAN VALIDASI DAN LEGITIMASI 

Jika kalian menyadari, sebenarnya BTS seringkali bingung dengan diri mereka sendiri.

Beberapa kali RM secara eksplisit mengatakan hal seperti ini. BTS pasti akan atau telah mengalami krisis identitas dan bertanya-tanya dengan apakah semua yang telah mereka korbankan (privasi, hubungan, kehidupan normal) itu sepadan. Sangat wajar untuk grup dengan fandom yang besar yang memuncaki BILLBOARD NO.1 malah terasa khawatir, berdebat, bingung dan tidak tenang. Karena mereka tahu pencapaian mereka tidak organik.

BTS sendiri pasti merasa sekeliling mereka bising tapi kemungkinan hanya gema dalam gua. Faktanya apa yang influencer BigHit dan die hard super fans lakukan adalah palsu. BTS dan ARMY bingung dan tidak dapat memahami seberapa populer mereka dan mengapa grup lain justru lebih dihargai, sementara mereka sangat menyadari bagaimana mereka diperhatikan dan disorot kamera.

Wawancara dengan Jimmy fallon dulu tahun 2018, BTS ingin memenangkan Grammy yang hingga sekarang belum kesampaian dan itu membuat makin frustasi. Mereka berpikir memenangkan Grammy adalah validasi bahwa semua yang mereka berikan sepadan (selain fakta bahwa BTS berusaha menghindari wamil dengan cara mendapat Grammy).

Tapi kenyataan menampar. Billboard #1 adalah prestasi ARMY. Ini adalah fakta yang ARMY tidak bisa sangkal dan dari situ saja kita bisa berpikir frustrasi RM dan BTS berasal dari kenyataan bahwa mereka pasti amat sangat bergantung pada ARMY untuk tetap berada di puncak penghargaan.

Big Fandom doesn’t mean good music.

Kasusnya seperti Jason Derulo – Savage Love mix BTS. yang juga sempat Billboard #1. Jason Derulo ini membuka borok nya BTS dan BigHit secara terang-terangan

BTS: Jason Derulo under fire after ARMY notices singer did NOT give group credit for Savage Love remix success

https://www.billboard.com/music/music-news/bts-billboard-cover-story-2021-interview-9618967/

.

‘KECACATAN’ DALAM PROPAGANDA

Gagasan untuk menyembunyikan kekurangan, kesalahan, dan agenda dalam berbagai bingkai adalah karakteristik dari sifat manusia yang sudah ada sejak lama. Para penguasa kuno membumbui, menyembunyikan, dan bahkan berbohong tentang kebijakan, penaklukan, dan pertempuran mereka agar reputasi mereka tidak ternoda dalam catatan sejarah.

Tidak ada yang suka mengaku ketika sekelompok elit (partai, media, dan agensi) punya agenda dalam setiap artikel yang keluar. Dan tidak ada brand defender Hybe yang suka ketika ada “grass root” misal seorang casual listener yang random mengungkapkan kegagalan dalam narasi elit tersebut. Untuk para pemerhati bisnis Hybe, artikel ini akan terasa kasar, padahal saya membuat ini ada sumbernya. Ada contohnya. Ada hitungannya.

Tidak ada kebohongan yang sempurna. Kebohongan politik dinegara manapun pasti ada celah. Terkadang ‘celah’ itu datang dari random reporter yang melaporkan hasil investigasinya tanpa tahu bahwa artikelnya membbegitu saja. Atau ada jurnalis yang memang menyelidiki suatu hal atas panggilan rasionalitasnya sendiri.

Lihatlah bagaimana isu pengecualian wamil BTS. Hal yang diributkan sejak 2018 ini bukan dari fandom atau orang biasa. Tapi dicetuskan politisi Demokrat, diramaikan media-media yang menjadi corong pemerintah, diusulkan kedalam konggres oleh partai yang berkuasa, dibackup orang No.1 se-Korea.

Atau bagaimana prestasi Billboard #1, menjadi sindiran oleh majalah Billboard sendiri.

Yang terbaru bagaimana BTS memberikan dampak ekonomi ke Las Vegas, sedangkan tepat sebelum konser dikota itu, ada 100 reporter yang dibiayai Hybe. Sangat erat hubungan antara Chaebol dan Pemerintah di Korea Selatan. Dan jelas dampak dari hal itu adalah penegak hukum yang juga ikut berpihak.

Flaws in propaganda.

Jadi, setinggi apapun posisi BTS mereka tetap tidak akan bisa mendapatkan legitimasi itu dari para penggemar kpop, publik, atau bahkan orang-orang yang berkecimpung didalam industri secara universal karena mereka tahu BTS adalah alat politik dan sudah jadi ‘watak’ kalau pemerintah turun tangan, para pemain industri bisa apa selain ‘ikut-ikutan’ seolah mendukung BTS padahal karena memang powernya tidak seimbang antara proses ‘delivery’ kepopuleran BTS yang instan dengan grup musik lainnya yang cenderung naik secara bertahap serta melalui proses naik-turun.

Pada akhirnya sulit untuk melihat “value” dan “worth” BTS yang sebenarnya di luar fandom yang mendukung mereka.

.

.

.

.

.

.

.

Sumber :

https://www.cmswire.com/digital-marketing/why-nano-influencers-are-a-marketers-secret-weapon/

Impression management of buzzer in social media twitter

https://thediplomat.com/2019/03/bts-and-the-global-spread-of-korean-soft-power/

https://www.scmp.com/magazines/style/celebrity/article/3109584/bts-members-are-ambassadors-seoul-none-them-are-there-now

https://www.cheatsheet.com/entertainment/bts-has-more-influence-on-u-s-politics-than-people-think.html/

https://www.cfr.org/backgrounder/south-koreas-chaebol-challenge

4 thoughts on “CHAPTER 2 – DEBUNKING MYTH – BTS AS POLITICAL TOOL

  1. Chap 3 upnya kapan min??? Masih pengen lanjut baca nihh, menarik banget blognya buat dibaca sebagai fans, biar tau cara batasin diri sampai sejauh apa harus support idol. Jujur baca perpolitikannya pusing karena gaada background pemahaman politik samsek, tapi narasinya enak dibaca jadi orang awam bisa paham juga

    Liked by 1 person

Leave a reply to Dodolot Cancel reply

Design a site like this with WordPress.com
Get started